KOMPAS.TV – Tenggat waktunya sebenarnya 6 April. Itu hari di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi ultimatum kepada Iran. Intinya, dia meminta Iran membuka Selat Hormuz dan menyetujui beberapa kesepakatan untuk mengakhiri perang. Kalau tidak? Ancaman Trump keras: serangan habis-habisan.
Tapi, dunia politik memang jarang berjalan sesuai skenario. Sehari sebelum batas waktu itu, tepatnya 5 April, Iran malah mengumumkan perpanjangan waktu. Pengumuman itu mereka sampaikan lewat media sosial.
Trump tak tinggal diam. Lewat Truth Social, dia menulis sesuatu yang terdengar bombastis.
"Selasa akan jadi hari pembangkit listrik dan hari jembatan, semuanya dalam sehari di Iran, tak pernah ada hal seperti itu sebelumnya," tulisnya.
Tak lupa, ancaman itu diselipkan lagi. "Buka Selat Hormuz, atau kalian akan hidup bagai di neraka, lihat saja."
Kemudian, dia memperjelas waktunya di unggahan lain. "Selasa jam delapan malam, waktu A-S bagian Timur."
Nah, Selasa yang dia maksud itu jatuh pada 7 April waktu AS Timur. Bagi kita di Indonesia, itu berarti Rabu, 8 April WIB. Jadi, ultimatumnya molor lagi.
Ini bukan kali pertama Trump mengulur waktu. Sebelumnya, di tanggal 26 Maret, dia juga menunda serangan yang rencananya ditujukan ke fasilitas energi Iran. Waktu yang diberikannya saat itu 10 hari, dari 26 Maret menjadi 6 April. Sekarang, tanggalnya bergeser lagi.
Artikel Terkait
Iran Sebut Ancaman Trump Hancurkan Infrastruktur sebagai Omong Kosong yang Arogan
Askrindo Genap 55 Tahun, Pacu Transformasi Digital untuk Dukung UMKM
Trump Ultimatum Iran: Seluruh Negara Bisa Hancur dalam Semalam
Kemensos Gelar Doa Bersama dan Sosialisasi untuk Transformasi Budaya Kerja