Di akhir Maret 2026, cadangan devisa Indonesia kembali menyusut. Tekanan global yang belum reda, ditambah dengan kewajiban membayar utang luar negeri pemerintah, membuat angka itu turun ke posisi US$148,2 miliar. Sebulan sebelumnya, angka itu masih bertengger di US$151,9 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp17.021 per dolar, penurunannya mencapai sekitar Rp2.522,5 triliun bukan jumlah yang sedikit.
Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, mengakui hal itu.
“Tekanan utamanya memang berasal dari pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ujarnya.
Namun begitu, ceritanya tak cuma soal utang. Ada beberapa faktor lain yang ikut bermain. Penerbitan global bond pemerintah, misalnya, juga memengaruhi pergerakan cadangan. Begitu pula dengan penerimaan dari pajak dan jasa. Di sisi lain, BI sendiri melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, yang ikut menyedot cadangan.
Langkah stabilisasi itu, menurut Ramdan, adalah respons wajar melihat gejolak pasar keuangan global yang masih tinggi volatilitasnya.
Artikel Terkait
Indonesia Desak PBB dan Lebanon Usut Tuntas Insiden Tewasnya Tiga Prajurit TNI di UNIFIL
Polisi Gerebek Pabrik Ekstasi di Apartemen Mewah Jakarta Timur, 2 Tersangka Diamankan
Bareskrim Ungkap 755 Kasus Penyelewengan BBM dan Elpiji Bersubsidi, Negara Rugi Rp1,26 Triliun
Menteri Haji Paparkan Kenaikan Biaya Penerbangan Haji 2026 Akibat Lonjakan Avtur dan Rupiah Melemah