Suasana pagi di SMP Negeri 1 Tamansari, Bogor, terlihat sedikit berbeda. Di depan kelas, sekelompok siswa berbaris menunggu. Mereka antre dengan sabar, menanti giliran mengambil 'ompreng' berisi Makan Bergizi Gratis atau MBG. Beberapa yang sudah mendapatkannya memegang tumpukan wadah, bersiap membawanya masuk ke ruangan.
Setelah makanan diterima, perwakilan dari tiap kelas pun bergegas kembali. Tugas selanjutnya adalah membagikannya satu per satu kepada teman-teman sekelas.
Sebelum menyantap, mereka duduk bersama dan berdoa. Barulah kemudian, jam istirahat itu diisi dengan acara makan bersama. Ritual sederhana, tapi terasa hangat.
Antusiasme mereka jelas terlihat. Dari cara menunggu yang tertib hingga sorak-sorai kecil saat makanan tiba. Bagi sebagian anak, MBG ini bukan cuma sekadar pengganjal perut di sekolah. Ini jadi cadangan makanan yang berarti untuk siang hari nanti di rumah.
Uwais, siswa kelas 7F yang berusia 13 tahun, mengaku tak biasa sarapan sebelum berangkat. "Suka bawa bekal. Yang masakin mama. Mama sebelum berangkat kerja," katanya, ditemui Selasa lalu.
Namun begitu, rutinitas itu sekarang berubah. Ibunya tetap masak, tapi lebih untuk kebutuhan makan keluarga di rumah. "Masak buat di rumah. Pulang kerja. Kerja di pabrik," ujar Uwais.
Kehadiran MBG jelas bikin dia senang. Soal menu, dia punya favorit sendiri. "Itu, makanan manis misalnya Jasuke (jagung susu keju). Susu ininya aku suka," katanya sambil tersenyum.
Tak semua makanan langsung dihabiskan. Sebagian sengaja dia bawa pulang. Alasannya sederhana sekaligus menyentuh: sang ibu bekerja, sehingga kerap tak ada persiapan makanan di rumah. "Iya. Jaga-jaga takut nggak ada makanan di rumah," tuturnya.
Cerita serupa datang dari Khaira, siswi kelas 7D. Ia mendeskripsikan menu hari itu cukup lengkap. "Lauknya ada lele, tempe, susu, ada tauge dan buncis," sebutnya.
Meski ada beberapa item yang kurang disukai, Khaira tetap mengambilnya. Alasannya? "Aku bawa ompreng buat dibawa ke rumah, dimakan orang tua, adik, atau kerabat," tutur Khaira.
Dia mulai menerima MBG sejak masuk SMP. Menurut pengamatannya, menunya komplet dan berganti-ganti setiap hari. "Dari pas masuk sekolah. Kalau aku di SD belum dapet MBG. Tapi sekarang di SD-nya sudah ada," ujarnya.
"Komplit tapi menunya beda-beda. Kalau yang kurang suka sih aku mie ayam, karena menurut aku kurang bergizi juga sih sebenarnya. Lele aku kurang suka juga tapi aku masukin ke kotak bekal dan dimakan orang tua," lanjut Khaira menjelaskan dengan rinci.
Di sisi lain, pihak sekolah punya cara tersendiri agar distribusi berjalan lancar. Gina Isnawati, wali kelas 7D, memaparkan mekanismenya. Pengambilan makanan dilakukan secara bergilir per kelas untuk menghindari kerumunan.
"Pendistribusiannya kami cukup tertib ya. Jadi anak-anak seperti tadi, setiap kelas itu ada sekitar 7 orang anak yang masuk ke tempat pendistribusian tersebut, terus baru masuk ke kelasnya dan dimakannya jam istirahat," jelas Gina.
Waktu makannya sendiri biasanya tak lama setelah makanan dibagikan. "Iya, sekitar jam setengah 10-an," katanya. Sebuah kegiatan sederhana yang ternyata punya arti besar bagi banyak siswa.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali