Cerita serupa datang dari Khaira, siswi kelas 7D. Ia mendeskripsikan menu hari itu cukup lengkap. "Lauknya ada lele, tempe, susu, ada tauge dan buncis," sebutnya.
Meski ada beberapa item yang kurang disukai, Khaira tetap mengambilnya. Alasannya? "Aku bawa ompreng buat dibawa ke rumah, dimakan orang tua, adik, atau kerabat," tutur Khaira.
Dia mulai menerima MBG sejak masuk SMP. Menurut pengamatannya, menunya komplet dan berganti-ganti setiap hari. "Dari pas masuk sekolah. Kalau aku di SD belum dapet MBG. Tapi sekarang di SD-nya sudah ada," ujarnya.
"Komplit tapi menunya beda-beda. Kalau yang kurang suka sih aku mie ayam, karena menurut aku kurang bergizi juga sih sebenarnya. Lele aku kurang suka juga tapi aku masukin ke kotak bekal dan dimakan orang tua," lanjut Khaira menjelaskan dengan rinci.
Di sisi lain, pihak sekolah punya cara tersendiri agar distribusi berjalan lancar. Gina Isnawati, wali kelas 7D, memaparkan mekanismenya. Pengambilan makanan dilakukan secara bergilir per kelas untuk menghindari kerumunan.
"Pendistribusiannya kami cukup tertib ya. Jadi anak-anak seperti tadi, setiap kelas itu ada sekitar 7 orang anak yang masuk ke tempat pendistribusian tersebut, terus baru masuk ke kelasnya dan dimakannya jam istirahat," jelas Gina.
Waktu makannya sendiri biasanya tak lama setelah makanan dibagikan. "Iya, sekitar jam setengah 10-an," katanya. Sebuah kegiatan sederhana yang ternyata punya arti besar bagi banyak siswa.
Artikel Terkait
Gatot Nurmantyo Soroti Tiga Langkah Polri yang Dinilai Membangkang
Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabilitas atau Kekosongan Makna di Era Prabowo?
Mekanisme Ajaib dalam Tubuh: 10.000 Kerusakan DNA Diperbaiki Setiap Hari
31 Januari: Dari Lahirnya NU hingga Misi Antariksa Simpanse Ham