Sepuluh malam terakhir Ramadan seharusnya menjadi waktu yang sakral. Di Masjid Istiqlal Jakarta, suasana itu biasanya dipenuhi oleh jemaah yang khusyuk beriktikaf. Tapi, niat suci itu ternoda oleh ulah seorang pria bernama WRD (40).
Alih-alih beribadah, pria asal Senen, Jakarta Pusat ini malah memanfaatkan momen tersebut untuk mencuri. Aksinya akhirnya ketahuan oleh seorang jemaah, RJK (19), yang langsung memergokinya.
Menurut sejumlah saksi, kejadiannya berlangsung pada Selasa dini hari, tepatnya waktu subuh. Pengelola masjid pun tak tinggal diam. WRD langsung diamankan dan diserahkan ke Polsek Sawah Besar untuk menjalani proses hukum.
“Setelah saya konfirmasi benar terjadi di Istiqlal. Dan pelakunya sudah diserahkan ke pihak berwajib,”
kata Direktur Lembaga Pengembangan Media Istiqlal, M Asda, mengonfirmasi kejadian itu.
Memang, suasana Istiqlal pada sepuluh malam terakhir selalu luar biasa ramai. Keramaian inilah yang rupanya dijadikan peluang oleh pelaku. Asda menjelaskan, WRD sengaja mengincar barang-barang jemaah yang sedang tertidur lelap setelah lelah beribadah.
“Iya bener. Dan memang ada peluang disaat jamaah tertidur. Tas atau barang yang tidak terkontrol jadi gampang diambil sama maling karena emang niatnya ngincar barang jamaah itu,”
ungkapnya.
Untungnya, dalam peristiwa ini korban tidak mengalami kerugian materi. Aksi si pelaku berhasil digagalkan berkat kewaspadaan jemaah lain. Meski begitu, kejadian ini jadi pengingat yang cukup keras. Pengelola Istiqlal pun mengimbau semua jemaah untuk lebih waspada.
Jangan sampai lengah. Asda menekankan, dalam kerumunan yang padat, selalu ada risiko yang mengintai. Terutama bagi jemaah yang baru pertama kali datang.
“Jamaah yang sudah terbiasa ke Istiqlal biasanya sudah paham situasi,” katanya.
Namun begitu, bagi pengunjung baru, suasana masjid yang besar dan ramai bisa menimbulkan rasa aman yang palsu. Pelaku justru memanfaatkan momen-momen dimana jemaah lengah: saat istirahat, mengantre takjil, atau sekadar mengecas ponsel.
Jadi, saling jaga. Itu pesan utamanya. Di tengah kekhusyukan ibadah, kesadaran kolektif untuk mengamankan barang bawaan sendiri dan membantu mengawasi lingkungan sekitar menjadi benteng yang paling efektif.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi