Ribuan warga Jawa Tengah yang merantau di ibu kota akhirnya bisa pulang kampung tanpa perlu pusing memikirkan ongkos. Program mudik gratis yang digelar Pemprov Jateng kembali diberangkatkan dari TMII, Jakarta. Gubernur Ahmad Luthfi sendiri yang melepas keberangkatan ratusan bus itu.
“Mudik itu tradisi kami, masyarakat Jawa Tengah,” ujar Luthfi.
Dia menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan armada untuk mengantarkan pemudik ke seluruh penjuru di provinsi tersebut.
Menurutnya, antusiasme warga tahun ini cukup tinggi. Sekitar 19 ribu orang mendaftar, jumlahnya meningkat dari tahun sebelumnya. “Wajar saja sih, gratis kan? Masyarakat jadi bisa lebih hemat,” tambah mantan Kapolda Jateng itu.
Total ada 325 bus yang disiapkan. Rinciannya, 70 unit dari Pemprov, lalu 175 bus dari kabupaten dan kota se-Jawa Tengah. Kontribusi juga datang dari sejumlah perusahaan. Bank Jateng menyumbang 53 unit, disusul PT Jasa Raharja (17 bus), dan PT Semen Gresik (8 bus). Perumnas dan Aqua masing-masing menyediakan satu bus.
Program ini memang sengaja ditujukan untuk meringankan beban perantau, khususnya yang bekerja di sektor informal. Pedagang kecil, buruh bangunan, asisten rumah tangga, hingga penyandang disabilitas jadi prioritas.
“Mereka ini pahlawan devisa juga, lho. Kami coba kumpulkan semua dukungan untuk meringankan beban mereka,” kata Luthfi.
Dukungan dari pihak swasta punya peran penting. Karyanto Wibowo dari Danone Indonesia mengungkapkan kebahagiaannya bisa membantu warga bertemu keluarga.
“Kami siap menemani perjalanan panjang mereka. Menjaga hidrasi itu penting, pengaruhnya besar untuk fokus dan kesegaran selama di jalan,” jelas Karyanto.
Warga Merasa Terbantu
Di lapangan, rasa syukur jelas terlihat. Arif, salah satu peserta tujuan Klaten, mengaku sangat terbantu.
“Bisa hemat sampai Rp 7 juta untuk tiket dan makan pulang-pergi sekeluarga,” katanya.
Uang yang dihemat itu rencananya akan dialihkan untuk keperluan lain yang lebih mendesak. “Alhamdulillah, terima kasih kepada semua yang sudah memudahkan perjalanan kami,” ucap Arif.
Kesannya tak jauh berbeda diungkapkan Wahyu Suryana, peserta lain yang baru pertama kali ikut. Dia mudik ke Wonogiri bersama kedua orang tuanya.
“Sekarang harga tiket bus bisa tembus Rp 700 ribu. Daripada keluar uang segitu, mending ikut ini, gratis,” tutur Wahyu yang sehari-hari berjualan kopi gerobak di sekitar Pasar Rebo.
Penghasilannya bersama ayahnya tak menentu, paling banter Rp 100 ribu per hari. Makanya, program seperti ini sangat meringankan. Dia berharap ke depannya bus yang disediakan bisa lebih banyak lagi.
“Terima kasih banyak. Dengan harga bus yang naik seperti sekarang, ini benar-benar membantu kami untuk pulang ke Jawa,” pungkasnya.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi