Pantau - Keresahan atas pasokan energi global mendorong perusahaan-perusahaan penyulingan minyak Jepang mengambil langkah tak biasa. Mereka mendesak pemerintah agar mengizinkan penggunaan kapal tanker berbendera asing. Ini terkait rencana pelepasan cadangan minyak nasional, yang digelar menyusul ketegangan memanas di Iran.
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Situasi di Timur Tengah yang makin runyam bikin semua pihak waswas, tak terkecuali Tokyo. Kekhawatiran utama: gangguan pada aliran minyak dunia.
Nah, masalahnya ada pada kapasitas angkut. Perusahaan-perusahaan itu menilai, armada kapal berbendera Jepang yang ada saat ini bakal kewalahan. Volume minyak yang akan dilepas disebut-sebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah negeri Sakura. Butuh kecepatan, dan itu sulit dicapai hanya dengan mengandalkan kapal domestik.
Padahal, aturannya jelas: pengiriman minyak dalam negeri umumnya cuma boleh pakai kapal berbendera Jepang. Tapi rupanya ada celah. Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata punya wewenang untuk memberi izin khusus pada kapal asing, kalau keadaan memang mendesak.
Seorang pejabat kementerian mengaku sedang mengkaji permintaan ini.
“Kami perlu terlebih dahulu memastikan apakah kapal berbendera Jepang mampu menangani situasi ini, tetapi kami juga mempertimbangkan kemungkinan memberikan izin kepada kapal berbendera asing.”
Gelombang Pelepasan Cadangan Dimulai
Langkah konkret sudah diambil. Jepang mulai melepas cadangan minyaknya sejak Senin, 16 Maret lalu. Tujuannya satu: meredam kepanikan pasar dan menjamin pasokan tetap lancar di tengah perang antara AS serta Israel melawan Iran.
Gelombang pertama berasal dari cadangan sektor swasta, setara dengan konsumsi minyak selama 15 hari. Tidak berhenti di situ. Pemerintah bakal melepas cadangan miliknya sendiri setara 30 hari konsumsi pada akhir bulan ini.
Kalau dijumlahkan, totalnya sekitar 80 juta barel minyak atau setara konsumsi domestik selama 45 hari akan mengalir ke pasar secara bertahap. Angka yang fantastis. Cadangan pemerintah sendiri sebenarnya masih sangat besar, tersimpan di 10 lokasi seperti Hokkaido hingga Kagoshima, cukup untuk kebutuhan 146 hari.
Dilema Logistik dan Kapal Raksasa
Di balik angka-angka besar itu, terselip persoalan teknis yang pelik. Pemerintah kini sedang sibuk mempersiapkan penjualan sebagian cadangan itu ke perusahaan penyulingan. Soalnya, minyak yang disimpan masih dalam bentuk mentah. Artinya, ia harus diangkut dulu menggunakan kapal tanker besar menuju kilang-kilang pengolahan.
Di sinilah kebutuhan akan kapal berukuran raksasa menjadi krusial. Seorang eksekutif di perusahaan penyulingan dengan gamblang menjelaskan tantangannya.
“Kapal konvensional tidak mampu menangani volume sebesar ini, sehingga pengamanan kapal tanker besar menjadi sangat penting. Prioritas utama kami adalah memastikan jaminan pasokan yang stabil.”
Jadi, intinya sederhana: punya stok minyak banyak itu bagus, tapi kalau tak bisa mengangkutnya dengan cepat dan efisien, ya percuma. Semua mata kini tertuju pada keputusan pemerintah mengenai izin untuk kapal asing itu.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi