Turki Perketat Keamanan Sekolah Usai Dua Insiden Penembakan Beruntun

- Kamis, 16 April 2026 | 17:15 WIB
Turki Perketat Keamanan Sekolah Usai Dua Insiden Penembakan Beruntun

Keamanan Sekolah di Turki Diperketat Usai Dua Insiden Penembakan

Langkah-langkah pengamanan di sekolah-sekolah Turki kini diperkuat. Ini dilakukan otoritas setempat sebagai respons atas dua peristiwa penembakan yang terjadi dalam dua hari berturut-turut.

Kementerian Dalam Negeri secara tegas menyatakan bahwa keamanan siswa adalah prioritas utama. Mereka tak main-main soal ini. "Kami sedang berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Intensitas penjagaan di lingkungan sekolah sudah ditingkatkan," begitu bunyi pernyataan resmi mereka, Kamis lalu.

Menurut sejumlah saksi, suasana mencekam itu berawal di Kota Kahramanmaras, Rabu kemarin. Seorang pelajar kelas 8 tiba-tiba mengeluarkan senjata dan menembak sembarangan di sekolahnya. Korban berjatuhan. Sembilan orang meninggal dunia, sementara tiga belas lainnya terluka tiga di antaranya dikabarkan masih kritis.

Dari sembilan korban tewas, delapan adalah siswa. Seorang guru matematika juga menjadi korban keganasan itu.

Pelaku, yang ternyata membawa lima pucuk senjata api milik ayahnya seorang mantan polisi dalam tas, akhirnya bunuh diri. Ia menembak kepalanya sendiri usai aksi brutal tersebut. Motifnya masih gelap, tapi Menteri Dalam Negeri Mustafa Ciftci sudah angkat bicara.

Ia menegaskan, insiden ini bukanlah aksi terorisme.

Nah, dari penyelidikan yang dilakukan Kejaksaan Provinsi Kahramanmaras, terungkap fakta lain. Rupanya, remaja 14 tahun itu sudah merencanakan serangannya. Jejak digital di komputernya mengarah ke sana. Semua indikasi menunjukkan ia bertindak sendirian.

Sayangnya, tragedi di Kahramanmaras bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, tepatnya Selasa, sebuah sekolah menengah di Provinsi Sanliurfa juga jadi lokasi penembakan. Mantan siswa di sana melukai enam belas orang. Dua insiden beruntun ini jelas membuat publik waswas.

Kini, suasana di sejumlah sekolah tampak berbeda. Pengawasan lebih ketat, para penjaga bersiaga. Pemerintah berusaha menenangkan, tapi trauma di koridor-koridor sekolah itu mungkin butuh waktu lebih lama untuk sirna.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar