Belum lagi berbagai teror sebelumnya yang kemungkinan dilakukan oleh orang yang sama. Ini adalah tindakan brutal yang justru membahayakan eksistensi pemerintahan sendiri. Islah meyakini, Presiden Prabowo pun pasti tidak menginginkan aksi semacam ini terjadi. Baik teror kepada aktivis maupun kriminalisasi yang menimpa Amsal Sitepu.
Nyatanya, teror tidak berhenti di situ. Ada juga yang menimpa kader HMI di Sumatera Utara, Jawa Barat, dan daerah lain. Mereka berusaha ditakuti, dibunuh idealismenya. Di sinilah negara harus hadir, mengungkap semua kasus ini tuntas.
Islah punya keyakinan lain. Pelaku penyiraman air keras itu pasti bukan cuma empat orang seperti yang diungkap BAIS TNI. Di seluruh dunia, tentara selalu tunduk pada komando atasan. Artinya, ada rantai perintah yang harus diungkap.
Karena itu, semua informasi tentang "Mens Rea" maupun "Actus Reus" dalam kasus ini wajib dibuka ke publik. Indonesia, yang saat ini berada di ambang batas kehancuran ekonomi dan politik, bisa belajar banyak dari kejadian semacam ini.
“Tidak menutup kemungkinan teror-teror ini hanya membangun ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dan militer,” ujarnya khawatir. “Jangan sampai upaya pengepungan tentara terhadap negaranya sendiri malah memicu perlawanan rakyat. Itu yang kita tidak inginkan.”
Artikel Terkait
Leeds United Singkirkan West Ham Lewat Drama Adu Penalti di Perempat Final FA Cup
Frankfurt Gagal Pertahankan Keunggulan, Köln Bangkit untuk Raih Poin 2-2
Petrokimia Gresik Sapu Bersih Jakarta Electric PLN 3-0 di Final Four Proliga
Keputusan Tahanan Rumah Yaqut Picu Gelombang Permohonan Serupa di KPK