Dan yang paling disorot tentu saja Gabriele Gravina. Sebagai orang nomor satu, langkah mundurnya ini dilihat banyak kalangan justru sebagai awal yang baik sebuah pengakuan bahwa perubahan besar mutlak diperlukan.
Lantas, apa dampaknya ke depan? Jelas, ini membuka babak baru yang penuh ketidakpastian. Federasi sekarang punya pekerjaan rumah yang menumpuk. Mereka harus segera mencari pelatih baru yang punya gigi, membenahi sistem akademi yang kerap dianggap jadul, dan yang paling sulit: mengembalikan kepercayaan fans yang sudah terusik.
Reaksi dari dalam dan luar negeri cukup keras, tapi sebagian besar mengangguk. Banyak pengamat bilang, perubahan ini sudah kelewat deadline. Mantan-mantan pemain juga berharap momen pahit ini jadi cambuk untuk revolusi total.
Di sisi lain, para tifosi di sudut-sudut kota Italia mungkin masih kecewa. Namun, di balik kekecewaan itu, terselip harap: semoga ini jadi akhir dari rangkaian kemunduran. Semoga langkah mundur ketiga tokoh kunci itu benar-benar menjadi batu pijakan untuk membangun kembali kejayaan Gli Azzurri.
Yang jelas, satu hal pasti: sepak bola Italia sedang di persimpangan jalan. Kegagalan ke Piala Dunia 2026 bukan sekedar insiden, melainkan alarm yang memekakkan telinga. Mundurnya Gattuso, Buffon, dan Gravina hanyalah episode pertama dari sebuah drama panjang yang judulnya: "Kebangkitan Kembali".
Artikel Terkait
Noussair Mazraoui Buka Suara: Pensiun dari Sepak Bola untuk Fokus Jadi Imam dan Hafiz Quran
BPPTKG: Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Tinggi, Status Siaga Dipertahankan
PSSI Tegaskan Semua Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Sah Secara Hukum
LavAni Tundukkan Garuda Jaya 3-0 di Final Four Proliga Surabaya