Ledakan di Fasilitas PBB Lebanon Lukai Tiga Personel Indonesia

- Sabtu, 04 April 2026 | 04:45 WIB
Ledakan di Fasilitas PBB Lebanon Lukai Tiga Personel Indonesia

Ledakan kembali mengguncang wilayah operasi pasukan PBB di Lebanon selatan. Kali ini, tiga personel Indonesia yang bertugas di bawah bendera UNIFIL menjadi korban. Insiden itu terjadi Jumat sore, 3 April, di fasilitas PBB dekat El Adeisse.

Melalui pernyataan resmi yang disampaikan UNIC, juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengonfirmasi kabar tersebut. "Sore ini, sebuah ledakan di fasilitas PBB di dekat El Adeisse melukai tiga penjaga perdamaian, dua di antaranya mengalami luka serius," ujarnya.

Ketiga prajurit Indonesia itu langsung dilarikan ke rumah sakit. Kondisi mereka masih diawasi ketat untuk mendapatkan perawatan terbaik.

Sayangnya, asal-usul ledakan itu masih gelap. "Kami belum mengetahui asal-usul ledakan tersebut," kata Ardiel, mengakui betapa pekan ini benar-benar masa sulit bagi pasukan penjaga perdamaian di lapangan.

Di sisi lain, harapan untuk kesembuhan para korban tetap dinyalakan. Ardiel juga menyampaikan harapan agar seluruh korban bisa pulih dengan cepat.

UNIFIL tak lupa mengingatkan. Mereka menyerukan semua pihak untuk menjaga keselamatan personel dan menghindari kontak senjata di sekitar area operasi. Seruan itu terdengar pilu, mengingat insiden ini adalah babak baru dari rentetan musibah.

Bagaimana tidak? Baru beberapa hari sebelumnya, Indonesia sudah berduka. Praka Farizal Rhomadhon gugur di hari Minggu, 29 Maret, akibat hujan tembakan artileri di dekat Adchit Al Qusayr.

Tragedi berlanjut keesokan harinya. Dua nama lagi harus bergabung dalam daftar korban: Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Mereka gugur saat konvoi yang mereka kawal diserang.

Sampai saat ini, siapa dalang di balik ketiga kematian itu masih menjadi misteri. Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.

Namun begitu, PBB telah memastikan bahwa penyelidikan sedang digeber. Pada Kamis lalu, mereka berjanji hasilnya akan diumumkan secepat mungkin. Dunia menunggu kejelasan, sementara keluarga di tanah air kembali dicekam kecemasan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar