Di Hotel Claro, Kamis lalu, suara Andi Amran Sulaiman menggema di hadapan ribuan hadirin. Sebagai Ketua Umum KKSS sekaligus Menteri Pertanian, ia membuka Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar yang ke-XXVI dengan nada seruan yang hangat namun tegas. Intinya satu: ajakan untuk bersatu. Dunia, menurutnya, sedang dihantui bayang-besok krisis energi dan pangan. Nah, di situlah peran mereka, para saudagar yang tersebar di penjuru negeri, menjadi krusial.
“Ayo berkolaborasi saudara-saudaraku,” ujarnya, memecah kesunyian.
“Mumpung saya masih menjabat, ayo teman-teman gubernur dan bupati. Kita punya lahan 870 ribu hektar yang bisa ditanami kakao, kopi, kelapa, lada, mete, dan tebu. Nilai ekspornya bisa mencapai angka Rp9,95 triliun.”
Amran tak sekadar mengajak. Ia juga menunjukkan peta kekuatan yang sudah ada di tangan. Indonesia, ia tegaskan, masih menjadi raja minyak sawit mentah atau CPO di panggung global, dengan pangsa pasar mencengangkan: 60 persen. Artinya, ketergantungan negara-negara pengimpor pada kita sangatlah besar. Bahkan, ia sampai menggunakan istilah yang cukup dramatis untuk menggambarkan situasinya.
Menurutnya, jika Indonesia sampai menutup keran ekspor CPO, maka yang terjadi bisa disebut sebagai “kiamat kecil” bagi negara-negara maju.
Artikel Terkait
Video Viral: Juru Parkir di Makassar Acungkan Pisau Saat Bentrok dengan Warga
Pantai Mandala Ria Bulukumba: Pesona Alam dan Jejak Sejarah Operasi Mandala
Pemerintah Perpanjang Batas Lapor SPT Tahunan hingga 30 April 2026
Puncak Arus Balik Lebaran, Penumpang Bandara Tembus 583 Ribu Orang