Posisinya makin kuat berkat hubungannya yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kedekatan dengan institusi militer paling berkuasa di Iran ini memberinya basis dukungan yang strategis, terutama dari generasi muda militan di tubuh IRGC.
Dalam peta suksesi Iran, hal ini sangat krusial. Dukungan militer dan elite konservatif seringkali jadi penentu utama.
Tak Lepas dari Sorotan dan Kritik
Namun begitu, naiknya namanya juga menuai kritik pedas. Banyak yang melihatnya sebagai awal dari politik dinasti sesuatu yang ironis, mengingat revolusi 1979 justru menggulingkan monarki turun-temurun.
Kapasitas keagamaannya pun jadi bahan perdebatan. Gelar Hojjatoleslam yang disandangnya dianggap belum memadai untuk seorang Pemimpin Tertinggi, yang secara tradisional disandang oleh Ayatollah.
Rintangan yang Menanti
Andai kata ia terpilih nanti, jalan yang harus ditempuh tak akan mudah. Tekanan sanksi internasional, terutama dari AS, terus menghimpit ekonomi Iran. Di dalam negeri, gelombang protes beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mendambakan perubahan.
Dengan segala pengaruh di balik layar, dukungan militer, dan kontroversi yang melekat, sosoknya kini menjadi pusat perhatian. Figur yang jarang tampil di publik ini berpotensi menjadi penentu arah baru bagi Iran.
Artikel Terkait
Kapal Perang Iran Ditenggelamkan Kapal Selam AS di Lepas Pantai Sri Lanka
Menhub Siapkan 841 Kapal untuk Angkut 3,2 Juta Pemudik Lebaran 2026
IHSG Melonjak 1,67%, Sentimen Positif Dominasi Pasar Saham
Pelatihan Al-Quran Isyarat Cetak Guru Baru untuk Pendidikan Inklusif