Australia Kerahkan Aset Militer ke Timur Tengah untuk Evakuasi Warga

- Kamis, 05 Maret 2026 | 14:15 WIB
Australia Kerahkan Aset Militer ke Timur Tengah untuk Evakuasi Warga

Ketegangan di Timur Tengah yang memanas pekan ini membuat sejumlah negara bergerak cepat. Australia termasuk di antaranya. Perdana Menteri Anthony Albanese secara terbuka mengonfirmasi bahwa Canberra telah mengerahkan "aset militer" ke kawasan tersebut. Langkah ini, menurutnya, adalah bagian dari persiapan darurat pemerintahannya.

“Dan kita telah mengerahkan aset-aset militer sebagai bagian dari perencanaan darurat kita awal pekan ini,” ujar Albanese di hadapan parlemen Australia, Kamis (5/3) waktu setempat.

Dia melanjutkan, “Saya berterima kasih kepada warga Australia yang pergi ke situasi berbahaya untuk membantu sesama warga Australia.”

Meski begitu, PM Albanese tak merinci lebih jauh. Jenis aset militer apa yang dikirim, atau di mana tepatnya mereka ditempatkan, masih belum jelas. Dari informasi yang beredar, tujuan utamanya adalah untuk mengevakuasi warga Australia yang terjebak di tengah eskalasi konflik.

Latar belakangnya memang mencemaskan. Amerika Serikat dan Israel baru-baru ini melancarkan serangan gabungan yang menargetkan Iran. Serangan itu dikabarkan menewaskan ratusan orang, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa itu ibarat memantik korek di tengah tumpahan bensin, memicu konflik regional yang meluas dengan cepat.

Teheran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang target-target di Israel dan juga negara-negara Teluk yang diketahui menampung pasukan AS. Situasi yang kacau inilah yang kemudian memicu aksi penyelamatan warga asing oleh berbagai negara.

Selain mengirimkan aset militer, pemerintah Australia juga telah menempatkan enam tim respons krisis di kawasan Timur Tengah. Langkah-langkah ini menunjukkan betapa seriusnya Canberra memandang ancaman yang berkembang. Di sisi lain, langkah serupa juga dilakukan oleh beberapa sekutu Australia, yang sama-sama berusaha membawa pulang warganya dengan segera.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar