Pelatihan Al-Quran Isyarat Cetak Guru Baru untuk Pendidikan Inklusif

- Kamis, 05 Maret 2026 | 11:00 WIB
Pelatihan Al-Quran Isyarat Cetak Guru Baru untuk Pendidikan Inklusif

Pelatihan Training of Trainer (ToT) untuk Al-Qur’an Isyarat gelombang pertama, yang digelar sejak September lalu, ternyata sudah membuahkan hasil. Tak sekadar teori, program ini berhasil mencetak sejumlah pengajar baru yang kini siap membagikan ilmu bahasa isyarat Al-Qur’an kepada anak-anak tunarungu.

Dampaknya langsung terasa di lapangan. Para guru yang ikut pelatihan pulang dengan segudang pengetahuan baru mulai dari cara memahami Al-Qur’an versi isyarat, strategi mengajarkannya di kelas, sampai langkah melibatkan orang tua murid dalam proses belajar.

Bukhori, salah satu guru di SLB Negeri 7 Jakarta, mengaku takjub dengan pengalamannya mengikuti ToT tersebut. Baginya, materi tentang Al-Qur’an berbahasa isyarat benar-benar membuka mata.

“Puji syukur, lewat kegiatan ini saya dapat pengalaman berharga,” ujarnya.

“Ternyata ada Al-Qur’an yang memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas tunarungu. Murid-murid kami juga sangat antusias. Selama ini mereka belum punya metode baca Al-Qur’an yang benar-benar sesuai kebutuhan mereka.”

Menurut Bukhori, kehadiran Al-Qur’an isyarat ini bukan cuma alat bantu, tapi terobosan penting bagi pendidikan inklusif dan agama. Ia pun tak berhenti di ruang kelas. Sekolahnya kini aktif mengajak wali murid untuk ikut belajar bahasa isyarat Al-Qur’an.

“Penguatan literasi agama pada anak-anak penyandang disabilitas bisa sia-sia kalau cuma di sekolah,” katanya. “Dukungan dari rumah itu krusial.”

Ia menambahkan, “Sangat penting bagi orang tua murid untuk paham Al-Qur’an Isyarat. Dengan begitu, pembelajaran agama di rumah juga akan berjalan baik. Kami ingin pemahaman ini menyentuh sisi emosional dan spiritual, baik bagi murid maupun orang tuanya.”

Di tempat lain, Wita Panca Dewi Annisa dari SLB Negeri 3 Jakarta juga merasakan hal serupa. Sudah lima tahun mengabdi sebagai pendidik, ia menilai metode isyarat Al-Qur’an membawa perubahan signifikan. Guru-guru kini punya kemampuan baru untuk mengajarkan kitab suci dengan cara yang lebih tepat dan mudah dicerna.

“Dulu kami pakai bahasa isyarat sehari-hari yang kami terjemahkan sendiri ke bahasa Al-Qur’an,” papar Wita. “Setelah ikut ToT, kami punya keterampilan baru untuk mengajar dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami.”

Praktiknya pun langsung dijalankan. SLB Negeri 3 Jakarta mengintegrasikan metode ini ke dalam kegiatan Pembiasaan Pagi. Murid-murid diajak membaca ayat pendek dan doa harian memakai bahasa isyarat. Implementasinya bertahap: pengenalan huruf hijaiah untuk tingkat SD, lalu hafalan surat pendek untuk jenjang SMP dan SMA.

Efeknya ternyata tak cuma dirasakan guru. Nadia Aulia Safira, siswi kelas 9 di sekolah yang sama, menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat Ramadan. Dengan mandiri, ia mempraktikkan bacaan Al-Qur’an isyarat usai salat Subuh, tanpa perlu disuruh guru atau orang tua. Bahkan, Nadia aktif membantu teman-teman sekelasnya.

“Nadia anak yang mandiri dan peduli,” kata Wita. “Di kelas, dia sering bantu teman-temannya saat belajar hijaiah atau baca doa bersama.”

Di sisi lain, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, MURIANETWORK.COM Riza Ul Haq, menegaskan bahwa kegiatan ToT Al-Qur’an Isyarat ini adalah wujud tanggung jawab moral dan konstitusional pemerintah. Program ini sejalan dengan semangat Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas.

“Melalui ToT Al-Qur’an Isyarat ini,” ungkap MURIANETWORK.COM, “saya berharap para lulusan pelatihan akan menjadi Mujahid Literasi yang membawa semangat pencerahan dan lingkungan pendidikan yang ramah bagi seluruh penyandang disabilitas di Indonesia.”

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar