Fatwa tersebut bahkan lebih luas lagi, melarang produksi segala jenis senjata pemusnah massal mulai dari kimia, biologi, hingga nuklir. Bagi Faisal, ini jelas menunjukkan bahwa alasan AS dan Israel untuk menyerang Iran hanyalah dalih belaka.
Gestur baik Iran juga terlihat dari kesediaannya bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Mereka mengizinkan tim inspeksi masuk, dan hasilnya? Tidak pernah ditemukan bukti bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir. Rakyat Iran sendiri patuh pada fatwa yang belum pernah dicabut itu.
“Jadi, semua tuduhan itu, itu ya tuduhan palsu,” katanya. Ia lalu menarik paralel dengan kasus masa lalu. “Seperti ketika Trump menuduh Saddam Hussein, bersama Tony Blair, bahwa itu sedang membuat senjata pemusnah massal, tapi pada akhirnya kan terbukti bahwa tuduhan-tuduhan itu bohong.”
Belakangan, upaya diskreditasi terhadap Iran makin menjadi. Faisal menambahkan, mantan Presiden AS Donald Trump bahkan memainkan isu sensitif agama untuk menyerang pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei. Dalam sebuah wawancara di Fox News, Trump menyebarkan narasi bahwa Khamenei tidak berpuasa di bulan Ramadhan.
“Dia cerita di Fox News, Khamenei dibunuh ketika dia akan sarapan bersama lingkaran dekatnya, itu kan benar-benar, benar-benar tuduhan palsu,” ujar Faisal dengan nada tidak percaya. “Tidak mungkin seorang pemimpin tertinggi, Muslim, dia makan sarapan di bulan Ramadhan.”
Artikel Terkait
KPK Tangkap Bupati Pekalongan, Dalih Bukan Birokrat Dinilai Tak Masuk Akal
Anggota DPR: Kewajiban Pulang Penerima Beasiswa Perlu Didahului Penyiapan Ekosistem Riset
Oknum Polisi Diamankan Usai Tembak Remaja di Makassar
Pertamina Pastikan Kapal dan Kru di Timur Tengah Aman, Siapkan Antisipasi Pasokan