Kalimat itu sekaligus jadi pengingat. Inovasi harus terus bergulir, menemukan bentuk-bentuk baru agar tidak basi dan kehilangan relevansinya di tengah masyarakat.
Lalu, bagaimana mengukur semua ini? Yusharto menjelaskan bahwa Indeks Inovasi Daerah (IID) dirancang sebagai alat ukurnya. IID menilai dua aspek utama: Satuan Pemerintah Daerah dan Satuan Inovasi Daerah, dengan rincian 36 indikator. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran utuh tentang kematangan ekosistem inovasi di suatu wilayah.
Dan Ngawi sendiri punya cerita yang cukup membanggakan. Berdasarkan hasil IID 2025, kabupaten ini menyandang predikat Sangat Inovatif dengan skor 88,58. Mereka bahkan mencatatkan 250 inovasi yang masuk dalam sistem. Sebuah pencapaian yang tidak kecil.
Namun begitu, Yusharto punya catatan. Pencapaian kuantitas yang bagus itu harus diimbangi dengan kualitas dan dampak yang terasa. Ia mendorong agar Ngawi tidak berpuas diri.
“Aparatur sipil negara atau PNS memiliki keleluasaan untuk melakukan pembaruan melalui inovasi,” ucapnya.
Pernyataan itu sekaligus jadi penyemangat. Dukungan regulasi yang konsisten, kolaborasi antar-perangkat daerah, dan sinergi dengan semua pihak model pentahelix menjadi pondasi mutlak. Hanya dengan cara itulah inovasi bisa benar-benar berkelanjutan dan bukan sekadar wacana tahunan belaka.
Artikel Terkait
Haddad Alwi dan Danilla Kolaborasi dalam Lagu Religi Pengakuanku
Galatasaray Rebut Kemenangan Tipis 2-1 atas Alanyaspor di Kandang Lawan
Pengacara Marcella Divonis 14 Tahun Penjara atas Kasus Suap Hakim Perkara Ekspor CPO
Pria di Cianjur Tewas Usai Dianiaya Diduga Curi Dua Labu Siam untuk Buka Puasa