“Hari ini kami mengecek langsung dokumen, kurikulum, data santri, kejelasan lokasi, dan memastikan aktivitas kajian kitab berjalan sesuai laporan. Alhamdulillah, secara administrasi semua persyaratan sudah terpenuhi,” jelas Hasan.
Di sisi lain, pimpinan Pondok Pesantren Darul Hafidzoh, KH Bimas Maryono, menyambut baik pendampingan dari Kemenag. Ia mengapresiasi proses tersebut dan sekaligus menegaskan komitmen pesantrennya untuk selalu mengutamakan mutu pendidikan.
“Prinsip kami, kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Alhamdulillah, beberapa santri kami bahkan diterima di perguruan tinggi ternama, termasuk fakultas kedokteran,” ungkap KH Bimas.
“Kami juga terus mendorong agar santri memiliki wawasan kebangsaan yang kuat dan bisa menjadi pemberi manfaat bagi masyarakat di mana pun mereka berada,” tambahnya.
Menariknya, kisah awal berdirinya pesantren ini justru berawal dari sebuah pengajian atau majelis taklim biasa. Dr KH Dimas Maryono yang juga terlibat dalam pengembangan pesantren mengisahkan, berkat keuletan para ibu, kegiatan kemudian berkembang menjadi rumah tahfiz, dan akhirnya terus bertumbuh seperti sekarang.
“Pesantren ini, ibaratnya, disponsori oleh ras terkuat di dunia,” katanya dengan senyum. “Yaitu kaum ibu.”
Artikel Terkait
Bupati Sidrap Ajak Warga Perbanyak Zakat dan Sedekah Usai Panen Menggembirakan
Sopir Truk Tewas Usai Benturan dengan Forklift di Dermaga Ciwandan
Bupati Sidrap Resmikan Ramadan Fair untuk Dongkrak Perekonomian Lokal
Sulsel Waspada Hujan Sedang dan Angin Kencang pada Selasa (3/3)