Tokoh Madura Kritik Pemerintah: Rakyat Hanya Dapat Piring Setengah Kosong

- Senin, 02 Maret 2026 | 03:00 WIB
Tokoh Madura Kritik Pemerintah: Rakyat Hanya Dapat Piring Setengah Kosong

Islah Bahrawi, seorang tokoh dari Madura, menyuarakan kegelisahan yang dalam. Ia menggambarkan betapa kita kerap terhenyak oleh berita-berita pilu. Ambil contoh, ada anak kecil yang nekat mengakhiri hidupnya. Penyebabnya sederhana sekaligus menyayat: ia tak tega meminta uang pada orang tuanya hanya untuk membeli alat tulis.

Itu baru satu cerita. Di sisi lain, kita dengar ada Kapolresta yang justru terlibat bisnis narkoba. Sementara daya beli masyarakat merosot, pemerintah malah sibuk mengimpor ratusan ribu mobil dari India. Belum lagi soal oknum tentara yang bermain dalam bisnis MBG atau Kopdes Merah Putih. Sungguh, daftar masalah ini seakan tak ada habisnya.

"Kita sebenarnya tahu," ujar Islah, suaranya terdengar berat.

"Kita hanya pura-pura tidak tahu. Nyatanya, banyak pensiunan tentara yang terlibat dalam bisnis perkebunan, kehutanan, sawit, sampai pertambangan. Sebagai anak bangsa, ini sangat memilukan. Pemerintah terkesan hanya ingin kenyang sendiri. Mereka membuat program yang bagus untuk pemerintah, tapi tidak untuk negara."

Pernyataannya itu disampaikan dalam sebuah wawancara pada Jumat, 27 Februari 2026.

Islah menekankan, hak dasar rakyat untuk mendapat pendidikan dan fasilitas yang layak seolah dirampas. Digantikan oleh program-program populis yang ujung-ujungnya cuma menguntungkan segelintir penguasa, bukan negara apalagi rakyat kecil.

Menurutnya, pembicaraan tentang 'negara' sekarang sudah bergeser. Yang kita bahas cuma pemerintah dan penguasa, sementara rakyat terlupakan. Situasinya membuat kita sulit untuk terus bersikap optimis. Bahkan, harus diakui, pesimisme itu wajar adanya.

"Coba lihat bagaimana Menteri Keuangan bicara, atau pernyataan-pernyataan yang keluar dari Istana," lanjut Islah.

"Semuanya terdengar seperti basa-basi belaka. Belum lagi laporan BPS soal pertumbuhan ekonomi. Angkanya mungkin bagus, tapi terasa artifisial. Statistik itu seolah dibuat hanya untuk menutupi realita sesungguhnya yang pahit."

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar