Ia mengajak pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, untuk benar-benar membuka mata. Ketuk dada, lihat fakta di lapangan. Ingatlah bahwa seorang presiden adalah pemimpin seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya sibuk bergaul dengan pemimpin negara lain.
Bagi Islah, fokus pada urusan dalam negeri jauh lebih penting. Jangan asyik masyuk memuji Donald Trump atau sibuk dengan pencitraan internasional. Semua itu, tegasnya, tak ada gunanya bagi rakyat. Bahkan, tidak menguntungkan secara elektoral sekalipun.
"Rakyat sekarang cuma menghadapi piring setengah kosong," katanya dengan nada prihatin.
"Saat Lebaran nanti, ibu-ibu mungkin tak lagi sanggup beli ayam utuh atau hidangkan makanan berlimpah. Ekonomi sudah mulai mencekik. Mohon maaf, Pak Prabowo, kami lebih memilih menyuarakan suara rakyat daripada bisik-bisik kekuasaan yang juntrungannya tidak jelas. Arah negara ini semakin tak karuan."
Dan itu belum termasuk gemuruh politik di kalangan elit. Pertempuran mereka pada akhirnya cuma mengorbankan rakyat. Sementara para elite berebut kue kekuasaan yang besar, rakyat hanya berharap remahannya untuk mengisi perut.
Karena itulah, Islah memohon. Presiden jangan lagi asyik dengan kue kekuasaan itu. Pikirkan mereka yang tak sanggup beli pena, yang kesulitan membeli beras pulen nan enak karena harganya sudah menjulang.
"Datanglah ke bawah kalau tidak percaya," pungkas Islah.
"Kami semua merasakan hidup yang semakin susah. Saya mohon kepada Bapak Presiden dan seluruh jajaran pemerintahannya: berhentilah berpikir untuk selamat sendiri. Yang perlu diselamatkan adalah 280 juta jiwa rakyat Indonesia."
Artikel Terkait
Go Ahead Eagles Kalahkan Excelsior 1-0, Jonathans dan James Turun Bermain
Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026
Imsak Jatuh Pukul 04.17 WIB untuk Warga Yogyakarta Hari Ini
Drama Gol Bunuh Diri Warnai Hasil Imbang Antalyaspor vs Fenerbahçe