Di sebuah universitas di Riyadh, Arab Saudi, suasana tampak khidmat. Megawati Soekarnoputri, presiden perempuan pertama Indonesia, berdiri di hadapan para hadirin. Ia baru saja menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Princess Nourah bint Abdulrahman University, Senin lalu. Dan pidatonya cukup menggugah.
Intinya jelas: pemberdayaan perempuan adalah penentu kualitas sebuah negara. Bukan sekadar pelengkap, tapi elemen esensial. "Pemberdayaan perempuan bukanlah ancaman terhadap nilai, budaya, atau tradisi," tegas Megawati.
Pernyataan itu ia sampaikan dengan penuh wibawa. Menurutnya, negara yang mengecualikan separuh populasinya dari proses pembangunan hanya akan menuai ketimpangan. Bahkan, berisiko kehilangan keseimbangan sosial dan moralnya. Negara harus dipahami sebagai peradaban yang hidup, bukan cuma struktur administratif belaka. Dan peradaban itu butuh semua potensinya, tak peduli gender.
Pengalamannya memimpin Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, jadi bukti nyata. Keterlibatan perempuan, dalam pandangannya, berdampak langsung pada kualitas kebijakan publik yang dihasilkan. Pemerintahan yang efektif mustahil terwujud kalau perempuan terus dikesampingkan dari meja pengambilan keputusan strategis.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Setuju Efisiensi Program Makan Bergizi, Kualitas Dijamin Tak Turun
Menteri Keuangan Soroti Vendor Lelet dan Kerumitan Bermuatan Bisnis di Sistem Coretax
Kuasa Hukum Laporkan Pimpinan KPK ke Dewas Soal Tahanan Rumah Yaqut
Mentan: Stok Beras Nasional Aman untuk 324 Hari ke Depan