Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi Mulai April 2026 Imbas Perang Iran

- Kamis, 26 Maret 2026 | 15:30 WIB
Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi Mulai April 2026 Imbas Perang Iran

Perang di Iran terus memicu gejolak harga minyak dunia. Dampaknya, negara-negara yang bergantung pada impor mulai merasakan tekanan. Malaysia, misalnya, terpaksa mengambil langkah tegas. Pemerintahnya berencana memotong kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi untuk warganya.

Mulai 1 April 2026 nanti, kuota itu bakal dipangkas. Dari yang semula 300 liter per bulan, jadi cuma 200 liter per orang. Kalau ada yang boros dan konsumsinya melebihi batas, ya siap-siap bayar dengan harga pasar. Kabar ini dilaporkan Bloomberg, Kamis lalu.

Di sisi lain, harga RON95 yang tak disubsidi sudah lebih dulu melonjak. Sejak pertengahan Maret 2026, harganya naik cukup tajam, sekitar 45 persen. Ini jadi gambaran betapa kerasnya tekanan yang dihadapi.

Namun begitu, Perdana Menteri Anwar Ibrahim berusaha menepati janjinya. Dia bersikukuh mempertahankan harga RON95 bersubsidi di angka 1,99 ringgit per liter. Itu setara dengan kurang lebih Rp 8.423.

"Kami akan pertahankan harga itu," begitu kira-kira komitmen Anwar.

Padahal, di Semenanjung Malaysia, harga bahan bakar jenis lain sudah ikut naik seiring kenaikan harga internasional sejak akhir Februari lalu. Kebijakan mempertahankan subsidi jelas punya konsekuensi berat.

Anggaran subsidi membengkak luar biasa. Beban bulanan pemerintah untuk bensin dan solar melonjak drastis, dari 700 juta ringgit jadi 3,2 miliar ringgit! Pembatasan kuota ini jelas upaya mengerem laju pengeluaran. Tujuannya ganda: menahan inflasi dan menjaga stabilitas anggaran negara yang mulai goyah.

Selain soal anggaran, ada tujuan lain. Pemerintah ingin memperketat pengawasan. Dengan kuota yang jelas, penyaluran BBM subsidi bisa lebih terkontrol dan tepat sasaran. Harapannya, pasokan bahan bakar tetap stabil untuk semua.

Untungnya, ada sedikit kabar baik di tengah situasi pelik ini. Cadangan minyak Malaysia dikabarkan masih aman, setidaknya hingga Mei 2026 mendatang. Itu memberi sedikit ruang bernapas untuk menyusun strategi jangka panjang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar