Terusan Suez Bangkit, Pendapatan Melonjak 17,5 Persen

- Selasa, 09 Desember 2025 | 12:25 WIB
Terusan Suez Bangkit, Pendapatan Melonjak 17,5 Persen

Sejak awal tahun fiskal Juli lalu, Terusan Suez menunjukkan geliat yang cukup menggembirakan. Osama Rabie, sang Ketua Otoritas Terusan Suez (SCA), baru saja membeberkan data yang mencatat peningkatan kinerja yang signifikan. Bayangkan saja, dalam periode sejak 1 Juli, kanal legendaris itu telah dilintasi oleh 5.874 kapal. Lalu lintas yang padat itu membawa berkah berupa pendapatan mencapai USD1,97 miliar, atau jika dirupiahkan, setara dengan Rp32,84 triliun.

Angka-angka itu bukan main. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatannya melonjak 17,5 persen. Tak cuma itu, tonase bersihnya juga naik 14,4 persen menjadi 247,2 juta ton. Jumlah kapal yang melintas pun bertambah 5,2 persen. Sebuah pemulihan yang patut disyukuri.

Rabie menyampaikan optimisme ini langsung kepada misi dari Dana Moneter Internasional (IMF). Menurutnya, proyeksi jangka panjang justru menunjukkan pemulihan yang akan berlanjut.

"Kami memperkirakan pendapatan untuk tahun fiskal 2026/2027 akan mencapai USD8 miliar," ujarnya.

Dan bukan berhenti di situ, angka itu diproyeksikan melesat lagi menjadi USD10 miliar pada tahun fiskal 2027/2028. Sebuah target yang ambisius, tapi bukan mustahil.

Sebelumnya, di bulan lalu, Rabie sudah memberikan gambaran. Pendapatan kanal pada 2025 ini diperkirakan menyentuh USD4,2 miliar, naik dari USD3,9 miliar di tahun 2024. Namun begitu, kita harus jujur melihat konteks yang lebih luas. Kedua angka itu masih jauh di bawah rekor gemilang USD10,2 miliar yang dicatat pada 2023. Penurunan tajam itu, ya, tak bisa dipisahkan dari ketegangan regional yang memanas, terutama krisis di Gaza.

Ada cerita panjang di balik pemulihan ini. Ingat saja, sejak Desember 2023, serangan-serangan oleh kelompok Houthi dari Yaman di perairan Teluk Aden dan Laut Merah membuat kalang kabut dunia pelayaran. Banyak perusahaan pelayaran besar memilih berjibaku mengubah rute, mengitari ujung selatan Afrika yang lebih jauh dan makan waktu, demi menghindari Terusan Suez. Situasi itu tentu saja memukul pendapatan kanal.

Tapi angin mulai berubah. Sejak gencatan senjata di Gaza berlaku pada Oktober lalu, Houthi menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial. Dan efeknya langsung terasa. Kapal-kapal pun perlahan kembali melirik rute yang lebih efisien melalui Suez. Kanal tua itu kembali berdenyut, membawa harapan baru bagi perekonomian di sekitarnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar