Menteri Fadli Zon Dorong Klenteng Tertua di Padang Jadi Cagar Budaya Nasional

- Kamis, 16 April 2026 | 19:40 WIB
Menteri Fadli Zon Dorong Klenteng Tertua di Padang Jadi Cagar Budaya Nasional

Minggu lalu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyempatkan diri berkunjung ke Klenteng See Hin Kiong di jantung Kota Padang. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan bagian dari komitmen nyata pemerintah untuk menjaga rumah-rumah ibadah bersejarah yang tersebar di Sumatera Barat.

Di hadapan para pengurus dan jemaat, Fadli Zon memaparkan betapa klenteng tua ini adalah bukti hidup dari akulturasi. Sebuah perpaduan unik antara budaya Tionghoa dan lokal Minang yang masih bertahan hingga sekarang. Menurutnya, kisah panjang See Hin Kiong justru memperkaya keberagaman dan menjadi harta warisan budaya yang tak ternilai bagi Padang.

"Klenteng See Hin Kiong ini termasuk yang tertua di Padang," ujar Fadli, Kamis (16/4/2026).

"Dibangun sekitar 1841, tempat ini punya nilai sejarah yang sangat kuat. Ia adalah wujud nyata dari proses percampuran budaya yang terjadi secara alami."

Tak cuma meninjau, dalam kesempatan itu Fadli juga mendorong langkah konkret. Ia ingin agar status cagar budaya klenteng ini ditingkatkan ke level nasional. Tentu, usulan itu akan diajukan setelah melalui proses revitalisasi dan kajian mendalam yang menyeluruh mulai dari sisi historis hingga sosial-budayanya.

Fadli juga mengingatkan satu episode kelam. "Dulu klenteng ini sempat terbakar hebat di era 1860-an," katanya.

"Tapi berkat semangat masyarakat, bangunannya direnovasi dan kembali berdiri tahun 1890. Sekarang statusnya sudah cagar budaya provinsi. Target kita berikutnya adalah naik ke tingkat nasional."

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya pendokumentasian sejarah klenteng secara lebih sistematis. Langkah ini dinilai krusial untuk memetakan cagar budaya dan rumah ibadah di seluruh Nusantara. Apalagi, keberadaan See Hin Kiong sudah terekam jelas dalam dokumentasi visual sejak zaman Hindia Belanda, termasuk lewat karya fotografer legendaris Woodbury & Page sekitar tahun 1857.

Menutup kunjungannya, Fadli berharap terjalin sinergi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah. Pelestarian, menurutnya, harus jadi kerja bersama.

"Kita akan revitalisasi bersama-sama, tentu dengan perencanaan matang," tegasnya.

"Harapannya, kelak See Hin Kiong tak cuma jadi living heritage, tapi juga berfungsi sebagai museum sekaligus destinasi budaya dan wisata yang hidup."

Dukungan serupa datang dari pengurus klenteng. Ketua Klenteng See Hin Kiong, Tan Kim Siong, menyambut baik langkah pelestarian itu.

Ia menegaskan, klenteng ini lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia adalah memori kolektif masyarakat Tionghoa Padang. Arsitekturnya yang khas merepresentasikan akulturasi yang dinamis, sekaligus menjadi pusat penjaga nilai spiritual dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Turut hadir mendampingi dalam kunjungan tersebut, Wali Kota Padang Fadly Amran, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta sejumlah pejabat terkait lainnya dari kementerian dan daerah.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar