Obligasi dan Sukuk RATU Tembus Oversubscription 6,8 Kali Lipat

- Jumat, 27 Maret 2026 | 20:15 WIB
Obligasi dan Sukuk RATU Tembus Oversubscription 6,8 Kali Lipat

Minat investor ternyata sangat besar terhadap penerbitan surat utang terbaru PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Dalam proses bookbuilding yang digelar, total permintaan yang masuk mencengangkan: mencapai Rp5,46 triliun. Angka itu jauh melampaui target, tepatnya 6,8 kali lipat dari rencana awal perusahaan yang 'hanya' Rp800 miliar.

Direktur RATU, Adrian Hartadi, membenarkan antusiasme pasar itu dalam pernyataan resminya Jumat lalu (27/3/2026).

"Permintaan terhadap Obligasi I Raharja Energi Cepu Tahun 2026 tercatat mencapai sekitar Rp2,58 triliun atau 8,61 kali dari target Rp300 miliar," ujarnya.

Lalu bagaimana dengan sukuk? Rupanya tak kalah panas. Permintaan untuk Sukuk Wakalah I mereka menyentuh Rp2,88 triliun, atau sekitar 5,76 kali dari target penerbitan sebesar Rp500 miliar. Ini jelas bukan angka main-main. Menurut Adrian, fenomena ini mencerminkan kepercayaan investor yang solid terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

Dengan struktur final yang sudah ditetapkan, obligasi akan diterbitkan senilai Rp300 miliar. Ini terdiri dari dua tenor: lima tahun dengan kupon 7,95% dan tujuh tahun dengan kupon 8,50%. Di sisi lain, Sukuk Wakalah akan dilepas senilai Rp500 miliar, juga dengan tenor lima dan tujuh tahun. Imbal hasil wakalahnya sama, 7,95% dan 8,50% per tahun, dengan pembayaran dilakukan setiap triwulan.

Lalu untuk apa dana segar yang terkumpul ini? Rencananya akan dipakai untuk berbagai kebutuhan pendanaan. Mulai dari mendukung cash call guna pengembangan aset di wilayah kerja Jabung dan Cepu, hingga melakukan refinancing atas pinjaman bank yang sudah ada. Harapannya, langkah ini bisa memperkuat struktur modal perusahaan. Pada akhirnya, semua bertujuan mendukung strategi ekspansi RATU dalam mengelola portofolio aset energi nasional.

Soal kredibilitas, penerbitan ini juga sudah dapat lampu hijau. Peringkat yang diberikan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) adalah idA (Single A) untuk obligasi konvensionalnya dan idA(sy) (Single A Syariah) untuk sukuknya.

Bagi Adrian, oversubscription yang tinggi ini punya makna lebih dalam. Ini bukan sekadar soal angka permintaan yang membengkak.

“Ini menjadi indikator kepercayaan pasar terhadap model bisnis dan fundamental perseroan,” tuturnya.

Ia pun menegaskan komitmen perusahaan. “Perseroan akan mengelola dana hasil penerbitan ini secara disiplin serta terus memperkuat portofolio aset energi guna mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.”

Sebuah awal yang kuat, tentu saja. Tinggal menunggu eksekusi selanjutnya di lapangan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar