Dasarnya adalah metode hisab hakiki wujudul hilal, yang jadi pedoman tetap Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Perbedaan semacam ini sebenarnya hal yang wajar. Penyebab utamanya ya itu tadi, perbedaan metode. Kalender Hijriah murni mengikuti siklus bulan, sementara kalender Masehi berdasar pada matahari. Hasilnya, setiap tahun tanggal Hijriah seolah "mundur" sekitar 10-12 hari dibanding tanggal Masehi. Itulah mengapa Ramadan tak pernah jatuh di musim yang sama secara berturut-turut.
Lalu kapan Lebaran? Prediksi pemerintah, Idul Fitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Sedangkan versi Muhammadiyah lebih cepat sehari: Jumat, 20 Maret 2026.
Jadi, meski tanggalnya bisa berbeda sehari, semangatnya tetaplah sama: menyambut bulan penuh berkah dengan penuh suka cita. Semua tinggal menunggu kepastian dari sidang isbat nanti.
Artikel Terkait
TAUD Kritik Penanganan Kasus Penyiraman Andrie Yunus, Desak Pengadilan Sipil
PSHK Desak Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Diadili di Pengadilan Umum
Bahlil: 20 Proyek Hilirisasi Tahap Awal Sudah Mulai, Investasi Capai Rp239 Triliun
Warga Makassar Bentrok dengan Petugas Tolak Penggusuran Kios di Jalan Satando