"Yang melapor ke kami orang tuanya. Kalau anak SD, lebih ke arah dia dieksploitasi," jelasnya.
Di sisi lain, korban love scam ternyata sangat beragam. Latar belakangnya pun banyak yang berpendidikan tinggi dan secara finansial mapan. Artinya, pelaku melakukan riset dulu sebelum menjerat korbannya.
"Sebetulnya, untuk korban yang saat ini ya kebanyakannya adalah perempuan-perempuan yang memang cerdas-cerdas, pendidikannya tinggi. Jadi bukan orang yang gaptek itu," kata Indri.
Ia menambahkan satu poin penting: pemahaman masyarakat tentang modus love scam ini masih terbatas. Padahal, pelaku seringkali memainkan permainan psikologis yang rumit. Itu justru jadi senjata utama mereka.
Memang, di era sekarang hampir mustahil orang tidak kenal media sosial. Tapi soal mengenali tipu daya di balik layar? Itu cerita lain. Indri merasa sosialisasi harus lebih gencar, terutama saat seseorang diajak melakukan transaksi uang.
"Walaupun itu diarahkan, tapi sebetulnya rata-rata korban ini orang-orang yang berpendidikan dan perempuan-perempuan yang memang oke-oke lah," pungkasnya.
Artikel Terkait
Ambulans Terjebak Macet Parah di Jalur Cibadak Akibat Motor Ngeblong
Tudingan Jual Beli SK Kepengurusan Rp5 Miliar Guncang KNPI Sulsel
Foto Viral Pengisian Jerigen Solar Subsidi di SPBU Sinjai Picut Kecaman Warga
Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Pendatang Pascalebaran