Keluarga Ungkap Riwayat KDRT dan Keguguran Berulang Anggi, Korban Pembunuhan Mantan Suami Siri

- Selasa, 24 Maret 2026 | 02:15 WIB
Keluarga Ungkap Riwayat KDRT dan Keguguran Berulang Anggi, Korban Pembunuhan Mantan Suami Siri

JAKARTA – Duka masih menyelimuti keluarga Mpok Nori. Kematian tragis cucunya, Dwintha Anggary atau yang akrab disapa Anggi, terus menyisakan luka. Namun, di balik peristiwa mengerikan itu, perlahan terkuaklah kisah pilu yang sudah berlangsung lama. Bukan cerita baru, melainkan sebuah pola yang sayangnya berakhir fatal.

Menurut sejumlah saksi di lingkungan tempat tinggalnya, Anggi ternyata sudah lama menjadi korban. Pelakunya? Sama. Fuad, pria WNA asal Irak yang disebut sebagai mantan suami siri, diduga kuat telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadapnya. Fakta ini membuat hati publik semakin trenyuh.

Yang lebih memilukan, dalam pernikahan yang penuh gejolak itu, Anggi harus menanggung beban ganda. Keluarga mengungkapkan, ia mengalami keguguran bukan cuma sekali. Tiga kali ia kehilangan janinnya, masing-masing di usia kandungan 3, 6, dan 8 bulan. Cukup berat untuk seorang perempuan.

Ketua RT setempat, Nurgiyanto, membenarkan adanya riwayat KDRT itu. Bahkan, konflik rumah tangga mereka sempat sampai ke meja mediasi warga. “Kami pernah coba damaikan mereka, dudukkan bersama,” ujarnya. Tapi upaya itu rupanya tak membuahkan hasil yang langgeng.

Tekanan psikis yang diduga kuat menjadi pemicu keguguran berulang itu. Keluarga melihat betapa Anggi hidup dalam ketakutan. Rasa was-was itu semakin menjadi ketika Fuad mulai menunjukkan sikap mengancam. Keluarga sempat melaporkannya ke polisi karena pelaku kerap membawa senjata tajam, membuat mereka semua merasa tidak aman.

Gambaran keputusasaan pelaku juga terlihat. Sekitar sebulan sebelum pembunuhan, Fuad dikabarkan sempat melukai dirinya sendiri. Ia tak terima ketika Anggi memutuskan untuk berpisah. Aksi nekat itu seolah menjadi pertanda buruk yang akhirnya terwujud.

Kini, Anggi telah pergi. Ia dimakamkan dalam satu liang lahat bersama sang ayah, sebuah keputusan keluarga yang diambil karena keterbatasan lahat. Pemakaman itu menutup sebuah babak, namun meninggalkan banyak tanda tanya dan kesedihan yang mendalam.

Kasus ini masih terus disorot. Rangkaian fakta yang muncul menunjukkan sebuah pola: tragedi ini bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia seperti bom waktu yang akhirnya meledak, didahului oleh konflik panjang dan derita yang dipendam dalam diam. Publik menunggu keadilan, sementara keluarga berusaha melanjutkan hidup dengan kenangan yang menyayat hati.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar