Nurlaila Indriani dari Relawan Siaga Cerdas Waspada Scammer Cinta (RSC-WSC) punya pesan tegas: masyarakat harus lebih hati-hati lagi di media sosial. Khususnya para perempuan. Jangan gampang percaya sama orang yang baru dikenal, apalagi kalau tujuannya mau menjalin hubungan.
Menurutnya, kejahatan sekarang ini sudah pindah tempat. Ruang digital jadi sasaran empuk, dan modusnya makin beragam. Indri sapaan akrabnya menekankan bahwa edukasi tentang hal ini adalah tanggung jawab bersama. Bahkan, anak-anak Sekolah Dasar pun kini ikut menjadi target.
"Saya berharap pihak sekolah itu sudah mengedukasi kepada murid-muridnya tentang kejahatan melalui dunia maya, termasuk love scam," ujar Indri.
Ia melanjutkan, "Kita menyadari bahwa cinta itu kan adalah kebutuhan dasar manusia. Jadi ya, kampanye dan sosialisasi harus sudah mulai digalakkan."
Pernyataan itu disampaikannya dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu lalu.
Dari catatan yang dimiliki relawannya, kasusnya sudah merambah ke anak-anak SD. Yang mengkhawatirkan, kerugiannya bukan cuma materi. Indri menyebut, korban dari kalangan ini justru lebih rentan mengalami eksploitasi seksual.
"Yang melapor ke kami orang tuanya. Kalau anak SD, lebih ke arah dia dieksploitasi," jelasnya.
Di sisi lain, korban love scam ternyata sangat beragam. Latar belakangnya pun banyak yang berpendidikan tinggi dan secara finansial mapan. Artinya, pelaku melakukan riset dulu sebelum menjerat korbannya.
"Sebetulnya, untuk korban yang saat ini ya kebanyakannya adalah perempuan-perempuan yang memang cerdas-cerdas, pendidikannya tinggi. Jadi bukan orang yang gaptek itu," kata Indri.
Ia menambahkan satu poin penting: pemahaman masyarakat tentang modus love scam ini masih terbatas. Padahal, pelaku seringkali memainkan permainan psikologis yang rumit. Itu justru jadi senjata utama mereka.
Memang, di era sekarang hampir mustahil orang tidak kenal media sosial. Tapi soal mengenali tipu daya di balik layar? Itu cerita lain. Indri merasa sosialisasi harus lebih gencar, terutama saat seseorang diajak melakukan transaksi uang.
"Walaupun itu diarahkan, tapi sebetulnya rata-rata korban ini orang-orang yang berpendidikan dan perempuan-perempuan yang memang oke-oke lah," pungkasnya.
Artikel Terkait
Pandji Selesaikan Pemeriksaan Kasus Dugaan Penistaan Agama di Polda Metro Jaya
Islah Bahrawi Tolak Wacana Polri Dibawah Kementerian, Desak Tetap di Bawah Presiden
Pandji Pragiwaksono Jalani Klarifikasi di Polda Metro Terkait Laporan Penistaan Agama
Muzani Serukan Dukungan Dua Periode untuk Presiden Prabowo di HUT Gerindra