Gelombang kontroversi menerpa tubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia. Isunya? Praktik jual beli surat keputusan kepengurusan dengan angka yang bikin mata berkedip: lima miliar rupiah. Angka yang fantastis, tentu saja, dan langsung memicu perdebatan sengit di kalangan internal.
Semua ini mencuat ke permukaan tak lama setelah pelantikan Fadel Muhammad Tauphan Ansar sebagai Ketua DPD I KNPI Sulsel untuk periode 2026-2029. Pelantikan yang mestinya mulus, malah dibayangi dinamika panas.
Lalu, dari mana tuduhan ini bermula? Imran, mantan Ketua Majelis Pemuda Indonesia KNPI Sulsel, yang pertama kali angkat bicara. Dalam sebuah podcast yang dipandu Rijal Djamal, ia melemparkan pernyataan yang cukup mengguncang.
"Harganya disebut mencapai Rp5 miliar. Kalau mau di-SK-kan dan dilantik, ya diminta bayar segitu," ujar Imran.
Ia tak cuma bicara soal angka. Menurutnya, ada pola baru yang mengkhawatirkan di KNPI, sesuatu yang bersifat transaksional. Pola semacam ini, klaimnya, belum pernah terjadi di periode-periode sebelumnya. Bahkan, ia menyebut ada indikasi proses lobi yang melibatkan partai politik dalam urusan SK ini.
Artikel Terkait
KPK Cabut Status Tahanan Rumah, Yaqut Kembali ke Rutan
Ambulans Terjebak Macet Parah di Jalur Cibadak Akibat Motor Ngeblong
Foto Viral Pengisian Jerigen Solar Subsidi di SPBU Sinjai Picut Kecaman Warga
Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Pendatang Pascalebaran