Suasana mencekam menyelimuti Teheran pagi itu. Ledakan-ledakan terdengar di berbagai penjuru kota, diikuti oleh kelam yang tiba-tiba. Warga ibu kota Iran melaporkan pemadaman listrik besar-besaran, terjadi tak lama setelah serangan udara menghantam wilayah timur, barat, dan utara kota pada Senin, 23 Maret 2026.
Serangan ini seolah menjawab peringatan Israel yang sebelumnya menyatakan akan menargetkan infrastruktur Iran. Perang yang sudah berjalan empat minggu ini tak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Malah, ancamannya kian meluas, memperbesar risiko bagi warga sipil di seluruh Timur Tengah. Korban jiwa telah melampaui angka 2.000, dengan mayoritas berasal dari Iran dan Lebanon.
Di tengah kekacauan ini, peringatan keras datang dari Fatih Birol, Kepala Badan Energi Internasional. Ia menyatakan krisis energi global akibat konflik ini lebih parah daripada gabungan guncangan minyak tahun 1973 dan 1979.
“Guncangan minyak pada tahun 1970-an telah menyebabkan kehilangan 10 juta barel per hari, sedangkan kerugian harian dari krisis saat ini telah mencapai 11 juta barel,”
ungkap Birol dalam pertemuan di National Press Club Australia, seperti dikutip The New York Times.
Pasar saham Asia langsung terguncang, mencerminkan kepanikan investor akan terus terputusnya pasokan energi vital. Harga minyak sendiri sudah melonjak lebih dari 50% sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran akhir Februari lalu. Salah satu pemicu utamanya? Blokade de facto Iran di Selat Hormuz.
Presiden Trump sudah memberi ultimatum pada akhir pekan. Ia mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz jalur pengiriman minyak yang vital tidak dibuka kembali pada Senin malam waktu AS. Ancaman itu ditolak mentah-mentah oleh Tehran.
Iran malah membalas dengan ancaman sendiri: mereka akan menargetkan fasilitas energi di negara-negara yang menampung pasukan AS, termasuk pabrik desalinasi yang jadi penopang hidup bagi banyak negara di kawasan. Pejabat Iran dengan tegas menyatakan selat itu akan "ditutup sepenuhnya" jika Trump nekat menjalankan ancamannya.
Sementara dari kubu Israel, narasi yang disampaikan justru tentang perang panjang. Meski Trump kadang memberi isyarat bahwa perang mungkin segera berakhir walau pernyataannya kerap kontradiktif pejabat Israel konsisten menyuruh publik bersiap untuk konflik berbulan-bulan.
Namun begitu, pertahanan udara Israel sendiri sedang jadi sorotan. Sebuah rudal Iran berhasil menghantam kota Dimona, yang hanya berjarak delapan mil dari fasilitas nuklir utama Israel, serta kota Arad di dekatnya, Sabtu malam. Serangan itu menewaskan puluhan orang dan melukai lebih dari sepuluh orang secara parah.
Insiden itu memicu pertanyaan: apakah Israel sengaja menahan diri untuk tidak menggunakan sistem pertahanan udara terbaiknya, karena khawatir akan kehabisan persediaan?
Di front lain, ketegangan dengan Lebanon kian memanas. Kepala militer Israel mengatakan kampanye melawan Hizbullah "baru saja dimulai". Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan memerintahkan penghancuran lebih banyak jembatan dan rumah di Lebanon. Langkah itu dikuatirkan banyak pihak sebagai persiapan untuk pendudukan jangka panjang di wilayah selatan Lebanon.
Korban jiwa terus berjatuhan. Duta Besar Iran untuk PBB menyebut setidaknya 1.348 warga sipil tewas di Iran angka yang belum diperbarui selama seminggu. Sebuah kelompok aktivis HAM di Washington malah melaporkan angka 1.398. Di Lebanon, korban tewas telah melampaui 1.000 orang. Sementara serangan Iran ke Israel menewaskan setidaknya 15 orang, dan AS telah kehilangan 13 personel militernya.
Dengan setiap hari yang berlalu, jalan menuju perdamaian terasa semakin jauh. Dan warga sipil di kedua pihak terus membayar harganya.
Artikel Terkait
Rentetan Kekerasan Seksual di Pesantren dan Institusi Agama: Pola Kuasa, Budaya Bungkam, dan Lemahnya Pengawasan
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, DPR Desak Pemerintah Perketat Pengawasan di Pintu Masuk Indonesia
Gempa Magnitudo 3,7 Guncang Mentawai, BMKG Sebut Gempa Dangkal
KSSK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Terjaga di Tengah Ketegangan Geopolitik Global