Konon, selain membawa berkah, warna terang pada amplop itu juga dipercaya bisa mengusir roh-roh jahat. Jadi, fungsinya ganda: mengundang keberuntungan sekaligus menjadi tameng. Tradisi sederhana ini dijalankan turun-temurun dengan keyakinan penuh, sebagai ritual untuk memastikan tahun baru dipenuhi hal-hal positif.
Di sisi lain, ada warna emas yang tak kalah penting. Warna ini kerap hadir sebagai aksen, memperkaya palet merah yang dominan. Anda bisa menemukannya pada ornamen, sulaman di baju tradisional, bahkan pada kue keranjang dan jeruk yang disajikan. Dalam budaya Tionghoa, emas atau kuning punya tempat istimewa. Ia dianggap warna paling mulia, melambangkan kebebasan dan keberanian.
Warna ini punya kaitan historis dengan Kaisar Kuning, tokoh legendaris dalam sejarah Tiongkok. Makanya, penggunaannya dulu sangat terbatas dan sakral. Kini, di Imlek, emas dan kuning hadir melengkapi merah. Lihat saja amplop merah tadi, seringkali ada tulisan doa berwarna emas menghiasinya. Begitu pula dengan lampion dan spanduk ucapan selamat.
Menariknya, jika dirunut lebih dalam, kedua warna ini seolah membawa pembagian peran yang harmonis. Merah, dengan energinya yang membumi, kerap diasosiasikan dengan harapan-harapan duniawi: kekayaan, kesehatan, dan keharmonisan keluarga. Sementara itu, kuning atau emas lebih condong ke ranah spiritual. Warna ini banyak digunakan di kuil-kuil Buddha dan menjadi warna jubah para biksu.
Jadi, lain kali Anda melihat gemerlap merah dan emas menghiasi sudut kota atau rumah, ingatlah bahwa itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah bahasa visual dari harapan, doa, dan warisan budaya yang telah mengalir ratusan tahun. Sebuah pesan universal tentang harapan akan awal yang baru, yang disampaikan melalui palet warna yang begitu berani dan penuh makna.
Artikel Terkait
Pandji Pragiwaksono Sowan ke MUI, Tabayyun Soal Kontroversi Mens Rea
Perjalanan Pagi Berujung Maut: Ibu Tewas, Dua Anak Selamat dalam Kecelakaan di Medan
Ulama dan Tokoh Nasional Tolak Mentah-Mentah Inisiatif Perdamaian Trump
Ramadan di Maskam UGM: 1.500 Porsi Mewah dan Ceramah Para Tokoh Nasional