Pandji Pragiwaksono Sowan ke MUI, Tabayyun Soal Kontroversi Mens Rea

- Selasa, 03 Februari 2026 | 19:36 WIB
Pandji Pragiwaksono Sowan ke MUI, Tabayyun Soal Kontroversi Mens Rea

Komika Pandji Pragiwaksono memilih untuk datang langsung ke kantor MUI. Tujuannya jelas: tabayyun. Ia ingin menjernihkan kontroversi yang menyelimuti pertunjukan tunggalnya, 'Mens Rea'. Dan ia tak datang dengan tangan kosong. Pandji bahkan mengajak para pihak di MUI untuk menyaksikan langsung cuplikan materi komedinya itu.

Ditemani kuasa hukumnya, Haris Azhar, Pandji diterima oleh Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. Kiai Haji Asrorun Ni'am. Suasana pertemuan, menurut Pandji, justru cair. Penuh tawa. Ia merasa langkah ini perlu diambil agar tidak ada lagi salah paham yang berlarut-larut terhadap karya yang kini sedang dalam laporan polisi itu.

"Ya intinya, kami berdialog dan sempat menonton pertunjukannya bareng-bareng. Lalu diskusi pun mengalir. Saya diingatkan bahwa sebagai orang yang berkarya, selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi,"

ujar Pandji di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (3/2).

Bagi Pandji, peran seniman dalam menjelaskan maksud karyanya itu krusial. Bisa mencegah kegaduhan yang tak perlu.

"Sebagai seniman, ketika saya bikin karya, tentu ada banyak penafsiran. Tapi senimannya sendiri kan bagian juga bisa ditanya untuk kejelasan maksud sebuah karya. Saya senang punya kesempatan untuk bertemu dan menjelaskan,"

tambahnya.

Di sisi lain, Haris Azhar memaparkan bahwa niatan kliennya murni untuk silaturahmi. Juga memberi penjelasan soal situasi yang berkembang. Ia menekankan, mereka ingin mendiskusikan sisi 'Mens Rea' atau niat jahat yang dituduhkan kepada Pandji dari sudut pandang keilmuan agama.

"Tadi kita ke sini sebenarnya niatnya tabayyun, silaturahim, menjelaskan situasi yang berkembang belakangan ini. Kita jelaskan, Pandji jelaskan 'Mens Rea' itu pertunjukan apa, tujuannya apa. Latar belakangnya, proses seperti apa, dan selebihnya ngobrol rileks,"

kata Haris.

Haris berharap MUI bisa merespons dengan arif, memanfaatkan fasilitas keilmuan yang dimilikinya.

Meski diskusi berjalan santai dan menyenangkan, Pandji mengakui tetap mendapat teguran serta nasihat. Ia menerimanya dengan lapang dada. Bahkan berkomitmen untuk menjadikan semua masukan itu sebagai bahan evaluasi ke depannya.

"Saya diingatkan bahwa sebagai orang yang berkarya, tentu selalu ada ruang untuk jadi lebih baik lagi. Saya punya komitmen. Karena saya ingin terus berkarya, dan karyanya didesain untuk menghibur sebanyak-banyaknya orang, maka karya itu harus didesain dengan mempertimbangkan perasaan sebanyak-banyaknya orang juga,"

tutur Pandji.

Langkah sowan ke MUI ini, bagi Pandji, adalah bukti nyata. Ia lebih memilih membuka dialog daripada terjerumus dalam konflik yang berkepanjangan. Sebuah pendekatan yang, menurutnya, jauh lebih produktif.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar