Islam melihat ini dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Dalam syariat Allah, nyawa manusia itu suci, tanpa tawar-menawar. Anak-anak harus dilindungi, titik. Kekuasaan bukan hak untuk memuaskan nafsu, melainkan amanah yang berat, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Adil. Di sini, tidak ada yang kebal hukum. Hukumnya datang dari Zat yang tidak bisa disuap oleh uang atau diintimidasi oleh jabatan.
Ketika Islam tidak diterapkan secara menyeluruh, yang muncul adalah kekosongan nilai. Itulah yang kita saksikan sekarang. Dunia terlihat tertib di permukaan, tapi busuk di dalam. Kejahatan tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan dilembagakan. Skandal seperti Epstein itu cuma puncak gunung es dari sistem yang jauh lebih besar dan lebih gelap.
Jadi, pertanyaannya bukan cuma siapa pelakunya. Tapi, sistem apa yang memungkinkan kejahatan semacam ini hidup subur dan bahkan dilindungi? Selama dunia masih menolak syariat Allah dan mengagungkan hukum buatan manusia yang penuh kepentingan, selama itu pula kejahatan para elit global akan terus berulang. Dan korbannya selalu sama: orang-orang kecil yang tak punya daya.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti membohongi diri sendiri. Peradaban kita ini bukan sedang sakit ringan. Ia bangkrut secara moral. Dan kebangkrutan semacam ini tidak akan bisa disembuhkan dengan slogan-slogan kosong. Hanya dengan kembali kepada aturan dari Sang Pencipta, harapan itu bisa muncul kembali.
Selvi Sri Wahyuni, M.Pd
Artikel Terkait
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas, Selidiki Dugaan Pelanggaran IPO
Kebusukan di Balik Tahta: Ketika Kejahatan Dilembagakan oleh Para Penguasa
Pesan Terakhir Hoegeng: Menolak Makam Pahlawan Demi Bersebelahan dengan Istri
Megawati Kenang Hangatnya Tante Meri, Istri Pendamping Hoegeng yang Berpulang