Kornelis bercerita, sekitar pukul 11.00 Wita itu ia hendak pergi mengikat kerbau di dekat pondok sang nenek. Dari kejauhan, ia sudah melihat sosok kecil itu tergantung. Kornelis pun lari, berteriak minta tolong. Warga berkerumun dan polisi segera dihubungi.
Namun begitu, ada percakapan singkat yang terjadi lebih pagi. Gregorius dan Rofina sempat mendapati YBS duduk di bale-bale bambu di luar pondok, sekitar pukul 08.00 Wita. Mereka menanyakan kabar neneknya, juga alasan ia tidak berangkat sekolah.
“Saat ditanya, korban hanya menunduk dan sedih,” ungkap Gregorius.
Sementara itu, ibu korban, MGT (47), punya kesaksian lain. Malam sebelum kejadian, YBS menginap di rumahnya. Pagi harinya, sekitar pukul 06.00 Wita, anak itu dititipkan pada tukang ojek untuk dibawa ke pondok neneknya.
Buku dan Pena: Permintaan yang Tercecer
Menurut penuturan Gregorius Kodo, latar keluarga korban penuh tantangan. Itu mungkin yang membuat YBS lebih memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Saat tragedi terjadi, sang nenek sedang berada di rumah tetangga.
Kehidupan korban diwarnai oleh kurangnya kasih sayang orang tua. Ayahnya telah meninggal dunia saat ia masih dalam kandungan. Ayah itu adalah suami ketiga dari ibunya. Kini, sang ibu harus menafkahi lima anak seorang diri, termasuk YBS.
Dalam kesederhanaan hidupnya, konon korban pernah menyebut keinginan untuk memiliki buku dan pena. Entah untuk menulis apa. Mungkin itu menjadi isyarat kecil dari seorang anak yang banyak diam, sebelum akhirnya memilih pergi dalam kesunyian.
Artikel Terkait
Sunderland Kalahkan Newcastle 2-1 dalam Derby Timur Laut yang Sengit
Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Pos Pengamanan Mudik 2026 di Medan
IM57+ Kritik Keras Pengalihan Status Tahanan Yaqut ke Rumah
MUI Desak Pemerintah Tinjau Ulang Keterlibatan Indonesia di Board of Peace