Hasan Nasbi Ungkap Prinsip Sun Tzu di Balik Strategi Politik Jokowi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 17:00 WIB
Hasan Nasbi Ungkap Prinsip Sun Tzu di Balik Strategi Politik Jokowi

Rahasia Jokowi Tak Terkalahkan

Oleh: Erizal

Dalam Podcast Total Politik kemarin, Hasan Nasbi coba mengulik rahasia di balik kiprah politik Jokowi. Menurutnya, Jokowi itu seperti penganut sejati Sun Tzu. Meski begitu, Hasan sendiri mengaku tak yakin apakah presiden kita ini benar-benar baca buku strategi perang kuno itu atau tidak.

Intinya begini: Jokowi punya prinsip yang jelas. Dia baru mau terjun ke medan pertarungan kalau sudah yakin bakal menang. Kalau peluangnya tipis atau malah nol, ya lebih baik mundur teratur. Gaya ini beda banget sama politisi lain yang kadang asal terjun dulu, urusan menang atau kalah dipikir belakangan.

Nah, prinsip itulah yang disebut Hasan Nasbi sebagai kunci kenapa Jokowi jarang sekali kalah dalam kontestasi politik. Dari Pilkada, Pilgub, sampai Pilpres. Bahkan dalam Pilpres 2024 lalu, saat dia 'membiarkan' anaknya, Gibran, mendampingi Prabowo.

Terlepas dari segala isu yang beredar soal dugaan kecurangan, peran aparat, atau polemik bansos faktanya pasangan itu menang. Dan menangnya cukup telak, lho. Bukan tipis-tipis.

Jokowi jelas nggak akan gegabah seperti Ahmad Ali yang sejak awal sudah berkoar mau menyodorkan Gibran untuk melawan Prabowo. Meski peluangnya ada, Jokowi bakal hitung matang-matang sampai detik terakhir. Makanya dia cuma bilang, "Prabowo-Gibran dua periode." Titik.

Di sisi lain, politik memang penuh kejutan. Ada juga yang modalnya pas-pasan tapi akhirnya menang. Ambil contoh Pramono Anung melawan Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta dulu. Elektabilitasnya cuma nol koma, sementara RK sudah mendekati 50%. Eh, yang menang malah Pramono.

Atau yang lebih dulu, saat Anies Baswedan melawan Ahok di Pilgub Jakarta 2012. Artinya, medan pertarungan itu selalu punya dinamikanya sendiri. Kasus Pramono bukan yang pertama. Anies sudah merasakannya. Bahkan Jokowi sendiri dulu waktu melawan Foke.

Namun begitu, politik kontestasi tentu beda dengan perang sungguhan. Dalam perang, pilihannya cuma dua: menang atau kalah, hidup atau mati. Sementara di politik, ada yang ikut kontes bukan semata untuk menang.

Bagi mereka, ikut bertarung saja sudah merupakan sebuah kemenangan. Apalagi di pemilu serentak 2029 nanti, yang katanya syaratnya lebih longgar. Bisa saja kalah di Pilpres, tapi suara partai di Pileg justru naik. Strateginya jadi lebih kompleks.

Jadi, strategi ala Sun Tzu yang disebut Hasan Nasbi itu, mungkin nggak sepenuhnya bisa diterapkan di situasi 2029 nanti. Medannya sudah berubah.

(")

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar