OPEC+ Setujui Kenaikan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Perang Iran

- Selasa, 05 Mei 2026 | 06:30 WIB
OPEC+ Setujui Kenaikan Produksi Minyak 188.000 Barel per Hari di Tengah Gangguan Pasokan Akibat Perang Iran

OPEC sepakat meningkatkan produksi minyak mentah secara moderat pada Juni mendatang, sebuah langkah yang sebagian besar bersifat simbolis di tengah gangguan pasokan akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang menutup Selat Hormuz. Keputusan ini diumumkan oleh tujuh negara anggota utama aliansi tersebut Aljazair, Irak, Kazakhstan, Kuwait, Oman, Rusia, dan Arab Saudi setelah pertemuan virtual akhir pekan lalu. Dalam pernyataan bersama, mereka menegaskan bahwa langkah ini juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi negara-negara peserta mempercepat kompensasi produksi yang tertunda.

“Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188.000 barel per hari,” demikian bunyi pernyataan bersama OPEC yang dirilis pada Senin (4/5/2026). Keputusan ini menandakan bahwa kelompok tersebut siap meningkatkan pasokan setelah konflik berakhir, sekaligus memberi sinyal bahwa OPEC tetap menjalankan pendekatan bisnis seperti biasa meskipun Uni Emirat Arab (UEA) telah menyatakan keluar dari aliansi.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, kuota produksi Arab Saudi produsen terbesar di OPEC akan naik menjadi 10,291 juta barel per hari pada Juni. Angka ini jauh melampaui produksi aktual kerajaan yang tercatat hanya 7,76 juta barel per hari pada Maret, sebagaimana dilaporkan kepada OPEC. Sementara itu, OPEC secara keseluruhan memiliki 21 anggota, termasuk Iran, namun dalam beberapa tahun terakhir hanya tujuh negara ditambah UEA yang terlibat dalam pengambilan keputusan produksi bulanan.

UEA, salah satu produsen minyak terbesar dunia, mengumumkan pada Selasa (28/4/2026) bahwa mereka akan menarik diri dari OPEC dan OPEC . Langkah ini dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kuota produksi yang diberikan. Di sisi lain, perang Iran yang pecah pada 28 Februari dan penutupan Selat Hormuz telah menghambat ekspor dari sejumlah anggota OPEC , termasuk Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan UEA. Sebelum konflik, negara-negara tersebut masih mampu meningkatkan produksi secara signifikan.

Bahkan jika pengiriman melalui Selat Hormuz kembali dibuka, diperlukan waktu beberapa minggu agar arus pasokan kembali normal. Gangguan ini telah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat tahun, menembus angka 125 dolar AS per barel. Para analis mulai memprediksi kekurangan bahan bakar jet yang meluas dalam satu hingga dua bulan mendatang, serta lonjakan inflasi global yang tak terhindarkan.

Produksi minyak mentah seluruh anggota OPEC rata-rata mencapai 35,06 juta barel per hari pada Maret, turun drastis sebesar 7,7 juta barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya, menurut laporan OPEC. Irak dan Arab Saudi mencatat pengurangan terbesar akibat terbatasnya ekspor selama penutupan Selat Hormuz.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar