MURIANETWORK.COM - Seorang anak berusia 10 tahun, siswa kelas IV di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas diduga akibat gantung diri pada Kamis (29/1/2026) siang. Korban meninggalkan surat untuk ibunya sebelum ditemukan tergantung di dahan pohon cengkeh dekat pondok tempat ia tinggal bersama neneknya. Kepolisian Resor (Polres) Ngada menyatakan dugaan sementara kasus ini adalah bunuh diri dan masih melakukan pendalaman.
Kronologi Penemuan dan Isi Surat
Korban ditemukan dalam keadaan tergantung di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu. Sebelumnya, sekitar pukul 08.00 Wita, dua warga sempat melihat dan berbincang dengannya di bale-bale dekat pondok, di mana korban terlihat murung. Seorang warga lain, Kornelis Dopo (59), menemukan jasad korban sekitar pukul 11.00 Wita dan segera meminta bantuan.
Di lokasi ditemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditinggalkan korban. Berikut isi surat dalam bahasa Ngada dan terjemahannya:
- KERTAS TII MAMA RETI (SURAT BUAT MAMA RETI)
- MAMA GALO ZEE (MAMA SAYA PERGI DULU)
- MAMA MOLO JA’O (MAMA RELAKAN SAYA PERGI/MENINGGAL)
- GALO MATA MAE RITA EE MAMA (JANGAN MENANGIS YA MAMA)
- MAMA JAO GALO MATA (MAMA SAYA PERGI/MENINGGAL)
- MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE (TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA)
- MOLO MAMA (SELAMAT TINGGAL MAMA)
Pernyataan Resmi Kepolisian
Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Inspektur Dua Benediktus E Pissort, mengonfirmasi perkembangan penyelidikan. "Dugaan sementara, korban bunuh diri. Kendati demikian, polisi masih terus melakukan pendalaman," kata Benediktus melalui sambungan telepon pada Senin (2/2/2026).
Ia juga membenarkan bahwa surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban. "Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan," lanjutnya. Sejumlah saksi telah diperiksa untuk melengkapi berkas penyelidikan.
Keterangan Keluarga dan Lingkungan Sekitar
MGT (47), ibu korban, menyatakan bahwa pada malam sebelumnya korban menginap di rumahnya. Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 Wita, korban dititipkan ke tukang ojek untuk kembali ke pondok neneknya. Ibunya sempat memberikan nasihat agar rajin bersekolah dan menyebut kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan.
Lipus Djio (47), warga setempat yang anaknya berteman dengan korban, memberikan keterangan terpisah. Ia menggambarkan korban sebagai anak yang periang dan cerdas. Menurut Lipus, kondisi keluarga korban menghadapi banyak tantangan. Ayah korban telah meninggal saat korban masih dalam kandungan, dan ibunya menafkahi lima anak. "Yang bikin kami tidak mengerti adalah mengapa anak sekecil itu bisa bunuh diri? Begitu beratkah beban yang ia pikul?" ujar Lipus, seperti dikutip dalam pemeriksaan.
Lipus juga menuturkan, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena sebelum kejadian, namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi. Korban lebih sering tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Saat kejadian, sang nenek sedang berada di rumah tetangga.
Artikel Terkait
Orang Tua Kapten Kapal MT Honour 25 Cemas, Pemerintah Upayakan Mediasi dengan Perompak Somalia
Pria Diduga Gangguan Jiwa Gali Makam di Simalungun, Jenazah Korban Ditemukan 15 Meter dari Liang Lahat
Met Gala 2026 Usung Tema ‘Fashion Is Art’, Beyoncé hingga Rihanna Curi Perhatian
Harga Emas Antam Anjlok Rp35.000 per Gram dalam Sehari, Buyback Ikut Terkoreksi