Menjaga Tanah Air, Menantang Jeruji Besi
Di Indonesia, upaya mempertahankan lingkungan hidup seringkali berbuah kepahitan. Bukan penghargaan yang didapat, melainkan jeruji besi. Bagi banyak masyarakat adat dan warga desa, tindakan melindungi hutan, sungai, dan tanah yang menghidupi mereka justru berakhir dengan kriminalisasi. Bahkan, tak jarang berujung pada kekerasan fisik. Realitas pahit ini terlihat jelas dari kisah masyarakat Maba Sangaji di Halmahera Timur hingga warga Torobulu di Sulawesi Tenggara.
Bagi orang Maba Sangaji, alam adalah segalanya. Ini soal identitas, spiritualitas, bukan cuma urusan ekonomi semata. Tanah dianggap sebagai "ibu" yang memberikan kehidupan melalui pala, cengkeh, dan kebun kakao. Sungai Sangaji beserta anak-anak sungainya adalah sumber pangan dan air bersih. Sementara hutan di sekitar mereka adalah ruang sakral, tempat situs-situs adat bersemayam.
Namun begitu, keseimbangan hidup itu mulai retak. Kehadiran tambang nikel mengubah segalanya. Hutan dibuka, sungai yang jernih berubah keruh, dan ruang hidup mereka menyempit. Menurut warga, semua ini terjadi tanpa ada persetujuan yang bermakna dari mereka. Rasanya, suara mereka tak didengar.
Penolakan pun tak terhindarkan. Pada Mei 2025 lalu, puluhan warga adat akhirnya mendatangi area tambang. Mereka melakukan aksi adat, menuntut operasi tambang dihentikan. Tapi konsekuensinya datang cepat. Esok harinya, polisi bergerak dan menangkap sejumlah peserta aksi, termasuk pemangku adat setempat. Sebanyak 11 orang dijebloskan ke penjara dengan tuduhan premanisme dan membawa senjata tajam.
Pengadilan kemudian memvonis mereka bersalah. Hukumannya? Penjara selama lima bulan lebih. Alasannya, aksi warga dianggap mengganggu kegiatan usaha pertambangan yang sudah punya izin resmi. Begitulah keputusan yang jatuh.
Artikel Terkait
Epstein Files Bocor Lagi: Ada Nama Indonesia, Tapi Bukan Tersangka
Truk Pasir Terguling di Bandung, Diduga Sopir Kantuk Saat Berkendara
Bus Transjakarta Dihalangi Demi Iring-Iringan, Alvin Lie Ingatkan Bom Waktu Amarah Rakyat
Surat Terakhir Bocah 10 Tahun di Pohon Cengkeh: Emoji Menangis dan Permintaan Buku yang Tak Sampai