Catatan Redaksi: Bunuh diri bukanlah jalan keluar. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan, segera cari pertolongan. Anda bisa menghubungi telepon darurat 119 ext. 8 atau melalui WhatsApp di 62 813-8007-3120.
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia pada Kamis siang (29/1). YBS begitu ia disamarkan ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah gantung diri.
Lokasinya di sebuah pohon cengkeh, tak jauh dari pondok sederhana yang ia tempati bersama neneknya yang sudah sepuh, sekitar 80 tahun. Di pondok itulah mereka berdua hidup.
Dalam olah TKP, polisi menemukan secarik kertas. Itu adalah surat untuk ibunya, ditulis tangan oleh korban dan ditinggalkan di sekitar lokasi. Isinya dalam bahasa daerah Ngada.
Di bagian akhir surat, ada sebuah gambar sederhana: emoji menangis.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E Pissort, membenarkan temuan itu. Menurutnya, surat tersebut diduga kuat ditulis oleh YBS sendiri sebelum kejadian.
“Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” jelas Benediktus.
Sejumlah saksi telah dimintai keterangan. Di antaranya Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34). Mereka semua warga Dusun Sawasina, Desa Naruwolo.
Kornelis bercerita, sekitar pukul 11.00 Wita itu ia hendak pergi mengikat kerbau di dekat pondok sang nenek. Dari kejauhan, ia sudah melihat sosok kecil itu tergantung. Kornelis pun lari, berteriak minta tolong. Warga berkerumun dan polisi segera dihubungi.
Namun begitu, ada percakapan singkat yang terjadi lebih pagi. Gregorius dan Rofina sempat mendapati YBS duduk di bale-bale bambu di luar pondok, sekitar pukul 08.00 Wita. Mereka menanyakan kabar neneknya, juga alasan ia tidak berangkat sekolah.
“Saat ditanya, korban hanya menunduk dan sedih,” ungkap Gregorius.
Sementara itu, ibu korban, MGT (47), punya kesaksian lain. Malam sebelum kejadian, YBS menginap di rumahnya. Pagi harinya, sekitar pukul 06.00 Wita, anak itu dititipkan pada tukang ojek untuk dibawa ke pondok neneknya.
Buku dan Pena: Permintaan yang Tercecer
Menurut penuturan Gregorius Kodo, latar keluarga korban penuh tantangan. Itu mungkin yang membuat YBS lebih memilih tinggal bersama neneknya di pondok. Saat tragedi terjadi, sang nenek sedang berada di rumah tetangga.
Kehidupan korban diwarnai oleh kurangnya kasih sayang orang tua. Ayahnya telah meninggal dunia saat ia masih dalam kandungan. Ayah itu adalah suami ketiga dari ibunya. Kini, sang ibu harus menafkahi lima anak seorang diri, termasuk YBS.
Dalam kesederhanaan hidupnya, konon korban pernah menyebut keinginan untuk memiliki buku dan pena. Entah untuk menulis apa. Mungkin itu menjadi isyarat kecil dari seorang anak yang banyak diam, sebelum akhirnya memilih pergi dalam kesunyian.
Artikel Terkait
Anies Baswedan: Guru yang Beri Inspirasi dan Nilai Tak Tergantikan oleh AI
Pemkot Brebes Ancam Pecat ASN yang Bolos 12 Hari Tanpa Keterangan
PTDI Klaim Pesawat N-219 Solusi Tepat untuk Konektivitas Daerah Terpencil dan Kepulauan
Polda Kepri Bongkar Impor Ilegal Ratusan Pakaian dan Sepatu Bekas Asal Singapura, Tiga Tersangka Diamankan