Kejadian di sebuah SMA negeri di Belu, NTT, benar-benar bikin hati miris. Seorang siswi berinisial SMN (16 tahun) dilaporkan dibanting gurunya sendiri, Vince Aplugi, sampai tak sadarkan diri. Polisi yang menyelidiki kasus ini menyebut pemicunya sepele: sang siswi tak bisa menggambar neuron atau sel saraf untuk ujian Biologi.
Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Rachmat Hidayat, membeberkan kronologinya. "Terlapor menganiaya korban dengan menggunakan botol berisi air mineral, menarik rambut, lalu membanting korban di kursi hingga pingsan. Korban mengeluh sakit di kepala dan pusing," jelasnya, Rabu (25/2) lalu. Insiden memilukan itu terjadi di dalam kelas, Selasa siang, saat ujian tengah berlangsung.
Merespon hal ini, Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian, angkat bicara. Baginya, kasus kekerasan di sekolah, di mana pun lokasinya, adalah hal yang sangat memprihatinkan.
"Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa penguatan karakter, kompetensi pedagogik, serta pengawasan terhadap pendidik masih belum optimal," tegas Lalu, Kamis (26/2).
Dia mengingatkan, sebenarnya sudah ada payung hukum yang jelas. Kementerian Pendidikan punya Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Sayangnya, aturan bagus itu seringkali mandek di atas kertas. Lalu mendesak agar regulasi ini betul-betul dijalankan dengan konsisten di semua sekolah.
Artikel Terkait
Satgas Pangan Lakukan 28.270 Kali Pemantauan Jelang Hari Besar Keagamaan 2026
Kemensos Salurkan Bantuan Rp 2,07 Miliar untuk Korban Bencana di Bener Meriah
Polres Metro Jakbar Gelar Apel Siaga Kamtibmas Ramadan Libatkan 205 Ormas
Pria Berulang Kali Curi dari Nenek Penjual Nasi Uduk di Bekasi Ditangkap