Padahal, MSCI sudah memberi peringatan keras sejak pertengahan 2025 untuk membenahi data dan membersihkan saham gorengan. Namun, respons regulator saat itu dinilai mengelak. "Mereka bilang, 'Oh, enggak kok pasar kita kondusif'," ungkap Chin menirukan.
Dosa-Dosa yang Menumpuk Bertahun-Tahun
Namun begitu, masalah ini bukan muncul tiba-tiba. Menurut analisis Chin, ada beberapa dosa yang menumpuk. Pertama, obsesi kuantitas di atas kualitas, seperti target IPO 1000 emiten yang membuat proses penyaringan jebol. Kedua, kebijakan yang membingungkan dan sering berubah-ubah, seperti aturan papan pemantauan khusus dan blind order, yang justru membuat investor asing kapok.
"Rule of the game di Indonesia itu berubah-berubah dan seringkali enggak masuk akal buat standar global," lanjutnya. Sementara pasar India melesat karena tata kelola yang kuat, Indonesia stagnan karena isu kepercayaan. "Sekali dicap sebagai pasar yang bisa diatur bandar, duit pintar itu bakal cabut."
Mundur Massal sebagai "Tumbal" dan Jalan Panjang Pemulihan
Pengunduran diri massal itu, dalam keyakinan Chin, adalah strategi "corporate harakiri". Pemerintah butuh tumbal untuk menunjukkan keseriusan kepada MSCI. "Kita pengin nunjukin nih, lihat kita serius, kita penggal pimpinan kita sendiri. Jadi, tolonglah kasih kita kesempatan kedua," katanya menafsirkan pesan diplomatik tersebut.
Apakah masalah selesai dengan mundurnya mereka? Tentu tidak. "Ganti orang tuh gampang. Ganti culture yang susah," ucap Chin. PR untuk pengganti mereka sangat berat: membongkar data kepemilikan saham yang asli, menindak tegas emiten dengan free float palsu, dan yang paling sulit, memulihkan kepercayaan investor asing.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Investor?
Menurut Chin, beberapa bulan ke depan akan sangat volatil. Untuk investor yang hati-hati, memegang cash dan mengurangi eksposur adalah pilihan bijak. Bagi yang agresif, volatilitas bisa jadi peluang, namun harus ekstra hati-hati. Saran terpentingnya adalah kembali ke fundamental.
"Coba balik lagi belajar fundamental. Benar-benar lihat perusahaan-perusahaan yang benar untung, yang beneran bagi dividen, yang beneran transparan," tuturnya. Ia menyarankan untuk menjauhi saham gorengan dan fokus pada emiten berkualitas seperti BCA atau Telkom, yang bisnisnya akan tetap berjalan meski harganya dibanting.
Meski pahit, Chin berharap momen ini menjadi proses bersih-bersih yang diperlukan. "Emang sakit, emang berdarah. Tapi semoga ini darah kotor yang keluar biar badan kita sehat lagi."
Artikel Terkait
Elit Global dan Kejahatan yang Dilembagakan: Saat Hukum Melindungi Para Dalang
Soenarko Sindir Pernyataan Kapolri: Bukan Berlebihan, Tapi Konyol
Presiden Prabowo Teken Pengangkatan Adies Kadir Jadi Hakim MK, Nomor Keppres Masih Ditutupi
Meri Hoegeng, Istri Mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso, Tutup Usia