MURIANETWORK.COM, Jakarta - Pasar modal Indonesia diguncang badai hebat pada akhir Januari lalu. Dalam rentang 48 jam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas, menghapus ratusan triliun rupiah dari nilai pasar. Kepanikan menjalar, trading terhenti berulang kali, dan puncaknya adalah pengunduran diri serentak sejumlah pucuk pimpinan regulator. Imam Rahmad selaku Direktur Bursa Efek Indonesia dan Mahendra Sirega, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, termasuk di antara yang meletakkan jabatan. Peristiwa ini disebut-sebut sebagai panic selling terbesar sejak Maret 2020, dengan pemicu yang jauh berbeda: bukan virus, melainkan ancaman dari lembaga pemeringkat global.
Ancaman yang Lebih Menakutkan dari Sekadar Jatuhnya Harga
Konten kreator ternama Raymond Chin, yang kerap membahas isu keuangan dan bisnis, mengangkat kegentingan situasi ini dalam video di kanal YouTube-nya pada 2 Februari 2026. Menurutnya, cerita di balik jatuhnya IHSG jauh lebih besar dan akan berdampak luas, bahkan bagi mereka yang bukan investor saham. Inti masalahnya terletak pada ancaman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), semacam "panduan Michelin" untuk investasi global, yang mengancam menurunkan status Indonesia dari "Emerging Market" ke "Frontier Market".
Raymond Chin dengan tegas menyanggah narasi pengunduran diri itu sebagai bentuk tanggung jawab moral. "Menurut gua bullshit lah," ujarnya. Ia meyakini ada paksaan di baliknya. "Menurut keyakinan saya, mereka mundur karena dipaksa. Karena ada yang nodong pistol ke kepala pasar modal kita."
Mengapa Ancaman MSCI Sangat Menakutkan?
Di sisi lain, bagi yang awam, degradasi kasta ini bukan soal gengsi semata. Ini soal uang dalam jumlah fantastis. MSCI menjadi patokan bagi dana-dana investasi pasif (passive fund) raksasa global. Dana ini beroperasi layaknya robot: mereka wajib membeli saham di negara yang tercantum dalam indeks Emerging Market MSCI, dan wajib menjualnya jika negara itu dicoret.
"Kalau sebuah negara ada di emerging market index, robot ini wajib beli saham di negara itu sesuai dengan bobotnya. Kalau negara itu dicoret dari list itu, robotnya wajib jual. Dan ini enggak bisa dinego," jelas Chin.
Estimasi kasar Chin, capital outflow yang bisa terjadi mencapai 30 hingga 50 miliar dolar AS. Imbasnya bisa sangat parah: IHSG berpotensi anjlok ke level 5.000-6.000, Rupiah melemah hingga Rp20.000 per dolar AS, dan likuiditas pasar mengering. Saham blue chip sekelas BCA atau BRI pun bisa ikut terpukul karena dijual murah dalam kepanikan.
Akar Masalah: Manipulasi "Free Float" yang Menjadi Kanker
Lalu, apa yang membuat MSCI marah? Jawabannya, menurut Chin, cuma satu kata: manipulasi. Lebih spesifik, manipulasi data free float atau saham yang benar-benar beredar di publik. Ia menganalogikannya seperti restoran dengan 10 kursi yang dijanjikan untuk pelanggan, tapi delapan di antaranya selalu diisi oleh karyawan yang pura-pura jadi pelanggan. Tampak ramai, tapi sepi transaksi nyata.
Di Indonesia, banyak saham yang secara laporan dimiliki publik, namun sebenarnya dipegang oleh "tangan-tangan hantu" milik pemilik perusahaan. Saham-saham itu digadaikan atau dikunci agar harganya tidak jatuh. Akibatnya, pasar kehilangan likuiditas sejati. "Buat investor global ini tuh dosa besar. Penipuan struktural," tegasnya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Teken Pengangkatan Adies Kadir Jadi Hakim MK, Nomor Keppres Masih Ditutupi
Meri Hoegeng, Istri Mantan Kapolri Hoegeng Iman Santoso, Tutup Usia
Epstein Files Bocor Lagi: Ada Nama Indonesia, Tapi Bukan Tersangka
Truk Pasir Terguling di Bandung, Diduga Sopir Kantuk Saat Berkendara