Catherine II Gulingkan Suaminya, Tsar Peter III, dalam Kudeta Berdarah

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 08:15 WIB
Catherine II Gulingkan Suaminya, Tsar Peter III, dalam Kudeta Berdarah

Sejarah Rusia mencatat sebuah kudeta yang unik. Yang menarik, penggulingan terhadap sang Kaisar, Tsar Peter III, justru dilakukan oleh istrinya sendiri.

Permaisuri itu tak lain adalah Catherine II. Lahir dengan nama Sophie Friederike Auguste von Anhalt-Zerbst di Stettin (kini Polandia) pada 2 Mei 1729, ia adalah putri seorang pangeran Jerman. Menurut catatan sejarah, pada 1745, setelah pindah ke keyakinan Ortodoks dan mengganti namanya menjadi Catherine, ia dinikahkan dengan Adipati Agung Peter. Peter adalah cucu Peter Agung dan calon pewaris takhta Rusia.

Namun begitu, pernikahan mereka jauh dari kata harmonis. Meski dikaruniai seorang putra bernama Paul, hubungan keduanya dingin. Situasi makin runyam ketika Peter naik takhta menjadi Tsar Peter III pada 1762.

Kepemimpinannya ternyata singkat dan penuh gejolak. Hanya enam bulan memerintah, dia sudah digulingkan. Dan siapa dalih di balik kudeta itu? Istrinya sendiri, Catherine.

Dia dengan cerdik memanfaatkan kekecewaan para prajurit yang sudah tak loyal lagi pada sang Tsar.

Tak lama setelah digulingkan, Peter III ditemukan tewas. Sampai sekarang, kematiannya masih diselimuti misteri. Banyak yang bertanya-tanya, apa Catherine punya andil di dalamnya? Itu pertanyaan yang belum terjawab jelas.

Memegang kekuasaan, Catherine dikenal memiliki banyak kekasih. Beberapa di antaranya bahkan diangkat ke posisi penting. Yang paling tersohor adalah Grigori Potemkin, seorang negarawan yang sangat berpengaruh.

Di sisi lain, dari segi pemerintahan, Catherine II cukup sukses memperluas wilayah kekaisaran. Di era kepemimpinannya, perbatasan Rusia meluas ke selatan dan barat, mencaplok wilayah seperti Krimea, Belarus, dan Lituania.

Tapi jangan salah, masa pemerintahannya tidak selalu mulus. Dia pernah dihadapkan pada ujian berat: Pemberontakan Pugachev di tahun 1774-1775. Pemberontakan rakyat itu sempat mendapat dukungan luas di wilayah barat, sebelum akhirnya berhasil ditumpas oleh tentara kerajaan.

Catherine II menghembuskan napas terakhirnya di St. Petersburg pada 17 November 1796. Takhta kemudian beralih ke putranya, Paul, mengakhiri satu babak panjang pemerintahan seorang permaisuri yang merebut mahkota.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar