Sejarah Rusia mencatat sebuah kudeta yang unik. Yang menarik, penggulingan terhadap sang Kaisar, Tsar Peter III, justru dilakukan oleh istrinya sendiri.
Permaisuri itu tak lain adalah Catherine II. Lahir dengan nama Sophie Friederike Auguste von Anhalt-Zerbst di Stettin (kini Polandia) pada 2 Mei 1729, ia adalah putri seorang pangeran Jerman. Menurut catatan sejarah, pada 1745, setelah pindah ke keyakinan Ortodoks dan mengganti namanya menjadi Catherine, ia dinikahkan dengan Adipati Agung Peter. Peter adalah cucu Peter Agung dan calon pewaris takhta Rusia.
Namun begitu, pernikahan mereka jauh dari kata harmonis. Meski dikaruniai seorang putra bernama Paul, hubungan keduanya dingin. Situasi makin runyam ketika Peter naik takhta menjadi Tsar Peter III pada 1762.
Kepemimpinannya ternyata singkat dan penuh gejolak. Hanya enam bulan memerintah, dia sudah digulingkan. Dan siapa dalih di balik kudeta itu? Istrinya sendiri, Catherine.
Dia dengan cerdik memanfaatkan kekecewaan para prajurit yang sudah tak loyal lagi pada sang Tsar.
Tak lama setelah digulingkan, Peter III ditemukan tewas. Sampai sekarang, kematiannya masih diselimuti misteri. Banyak yang bertanya-tanya, apa Catherine punya andil di dalamnya? Itu pertanyaan yang belum terjawab jelas.
Memegang kekuasaan, Catherine dikenal memiliki banyak kekasih. Beberapa di antaranya bahkan diangkat ke posisi penting. Yang paling tersohor adalah Grigori Potemkin, seorang negarawan yang sangat berpengaruh.
Di sisi lain, dari segi pemerintahan, Catherine II cukup sukses memperluas wilayah kekaisaran. Di era kepemimpinannya, perbatasan Rusia meluas ke selatan dan barat, mencaplok wilayah seperti Krimea, Belarus, dan Lituania.
Tapi jangan salah, masa pemerintahannya tidak selalu mulus. Dia pernah dihadapkan pada ujian berat: Pemberontakan Pugachev di tahun 1774-1775. Pemberontakan rakyat itu sempat mendapat dukungan luas di wilayah barat, sebelum akhirnya berhasil ditumpas oleh tentara kerajaan.
Catherine II menghembuskan napas terakhirnya di St. Petersburg pada 17 November 1796. Takhta kemudian beralih ke putranya, Paul, mengakhiri satu babak panjang pemerintahan seorang permaisuri yang merebut mahkota.
Artikel Terkait
Royal Dinner Mangkunegaran ke-269 Sajikan Filosofi Keprajuritan Lewat Tujuh Hidangan Khas
Halte Transjakarta Manggarai Ditutup Sementara Mulai 6 Mei 2026 Imbas Pembangunan LRT
Pengacara Kembali Gugat Jokowi soal Ijazah, Kuasa Hukum: Tak Ada Putusan yang Perintahkan Perlihatkan Ijazah
Arsenal Pastikan Tiket Final Liga Champions Usai Taklukkan Atletico Madrid 1-0