Hegseth Tegaskan Gencatan Senjata dengan Iran Masih Berlaku meski Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

- Rabu, 06 Mei 2026 | 05:50 WIB
Hegseth Tegaskan Gencatan Senjata dengan Iran Masih Berlaku meski Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di Selat Hormuz, meskipun status gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya masih dinyatakan berlaku. Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum berakhir, kendati kedua negara terlibat saling serang di jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Menurut Hegseth, situasi di lapangan memang memicu ketegangan, namun hal itu tidak serta-merta berarti gencatan senjata telah runtuh. “Tidak, gencatan senjata belum berakhir. Ini adalah proyek terpisah dan berbeda, dan kami memang telah memperkirakan akan ada gejolak di awal, yang memang terjadi,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Pernyataan itu merujuk pada inisiatif yang disebut Proyek Kebebasan, yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Minggu (3/5/2026). Proyek tersebut dirancang untuk membantu evakuasi kapal-kapal komersial yang terjebak di Selat Hormuz di tengah meningkatnya gesekan militer.

Di sisi lain, Amerika Serikat masih membuka kemungkinan melancarkan serangan terhadap Iran jika kesepakatan damai tidak tercapai. Hegseth mengungkapkan bahwa Trump tetap mempertahankan opsi untuk memulai kembali operasi militer skala besar terhadap Iran. “Presiden mempertahankan kesempatan dan kemampuan, lebih banyak kemampuan daripada yang kita miliki sejak awal lalu, untuk memulai kembali operasi besar-besaran jika perlu,” kata Hegseth.

Dia menambahkan, Departemen Pertahanan AS siap bertindak apabila Iran tidak menunjukkan kesediaan untuk mencapai kesepakatan damai. Sementara itu, Amerika Serikat juga masih memberlakukan blokade maritim terhadap Iran, dengan melarang kapal-kapal keluar-masuk pelabuhan negara tersebut. Kebijakan ini semakin memperumit kondisi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar