Sebanyak 150 tamu undangan dari berbagai kalangan menghadiri Royal Dinner dalam rangkaian peringatan Adeging Mangkunegaran ke-269 yang digelar di Pendopo Mangkunegaran, Surakarta, akhir pekan lalu. Acara ini menjadi malam penuh kebersamaan yang dihadiri oleh sejumlah tokoh, mulai dari KGPAA Mangkunegara IX, GRAJ Ancillasura Marina Sudjiwo, Respati Ardianto, Meliza M. Rusli, Nico Tahir, Aditya Bayu Nanda, hingga mantan Menteri Keuangan Agus Martowardojo.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX, yang akrab disapa Gusti Bhre, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut. Menurut dia, malam itu bukan sekadar jamuan makan, melainkan simbol kebersamaan dan kebahagiaan. Ia menekankan bahwa setiap pilihan dan kerja keras yang telah ditunjukkan oleh para tamu mampu menciptakan dampak positif serta keberlanjutan.
“Terima kasih, selamat menikmati makan malamnya. Saya mewakili seluruh keluarga besar Mangkunegaran, selamat menikmati kebersamaan,” ujar Gusti Bhre dalam sambutannya.
Sementara itu, Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo, atau yang kerap disapa Gusti Sura, menjelaskan bahwa perayaan Adeging Mangkunegaran tahun ini jatuh pada Tahun Dal. Dalam siklus Windu Jawa, Tahun Dal dimaknai sebagai fase tantangan sekaligus penempaan diri. Filosofi ini diwujudkan dalam tema keprajuritan yang diangkat pada rangkaian acara.
“Ini kami wujudkan dalam tema keprajuritan yang bisa teman-teman lihat di sini. Mangkunegaran melambangkan semua ini dengan ikon kuda,” kata Gusti Sura di Pamedan Mangkunegaran.
Ia menambahkan bahwa dalam tradisi Jawa, Tahun Dal bukan sekadar penanggalan. Ibarat seekor kuda pilihan, ketangkasan tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk melalui disiplin dan latihan yang teguh. Filosofi ini kemudian diterjemahkan ke dalam setiap hidangan yang disajikan malam itu.
Sebanyak tujuh rangkaian hidangan disiapkan untuk mengajak para tamu menyelami makna Legiun Mangkunegaran. Perjalanan kuliner dimulai dengan canape savory bernama Sosis Solo Deconstructed. Hidangan ini menghadirkan crispy crepe hasil teknik dehidrasi yang membungkus ayam rempah santan kental, melambangkan langkah awal yang terarah, sebagaimana kavaleri yang melesat cepat.
Memasuki menu pembuka, Dendeng Age Buntel hadir dengan rupa menyerupai tapal kuda besi yang sedang dipanaskan. Daging cincang berempah yang dibungkus lemak jala ini menjadi simbol disiplin dan batasan ketat bagi prajurit Legiun. Puncak narasi malam itu tertuang dalam hidangan utama, Slow Cooked Beef Sauce Kluwek. Beef Short Ribs yang dimasak sous-vide selama 48 jam menjadi metafora penempaan yang sempurna.
Daging yang semula keras menjadi lembut karena waktu dan suhu yang tepat, konsisten seperti langkah kuda yang terarah menuju tujuan bermakna. Saus kluwek yang hitam dan pekat melambangkan fase penempaan diri yang keras, tetapi kaya akan makna. Sebagai penutup siklus, hadir Mousse Tape Singkong. Menggunakan bahan dasar rakyat yang naik kelas, hidangan ini melambangkan kerendahan hati seorang ksatria. Tekstur mousse yang ringan dipadukan dengan meringue jahe dan coulis nangka memberikan ruang tenang untuk refleksi atas segala ketekunan yang telah dijalani.
Royal Dinner Mangkunegaran bukan sekadar perjamuan rasa. Lebih dari itu, acara ini merupakan penghormatan terhadap sejarah, disiplin, dan langkah yang tak pernah goyah. Seluruh rangkaian hidangan menjadi medium untuk merenungkan nilai-nilai keprajuritan yang diwariskan turun-temurun oleh Mangkunegaran.
Artikel Terkait
PBB Sambut Gencatan Senjata Sepihak Ukraina dan Rusia pada Awal Mei
Pegawai Toko Roti Tewas Dibacok di Cengkareng, Cekcok Senggolan Motor Berujung Maut
Kelompok Cipayung Plus Desak Presiden Evaluasi Kepala BGN Imbas Boros Anggaran dan Dugaan Cacat Prosedur
Fraksi Golkar Dukung Pelibatan TNI dalam Pembekalan Nasionalisme bagi Mahasiswa LPDP