Dialog Terbuka dan Ujian Nyata: Akankah Kedaulatan Kembali ke Rakyat?

- Selasa, 03 Februari 2026 | 05:50 WIB
Dialog Terbuka dan Ujian Nyata: Akankah Kedaulatan Kembali ke Rakyat?

Pernyataan soal akan adanya sikap oposisi terhadap penghambat kedaulatan juga perlu ditanggapi serius. Oposisi di sini maknanya luas. Bukan cuma terhadap partai di luar koalisi pemerintah, tapi terhadap siapa pun baik di dalam maupun di luar kekuasaan yang menghalangi agenda rakyat.

Negara tak boleh ragu untuk menertibkan mereka. Kalau penghambatnya ada di dalam sistem, ya reformasi internal harus jadi prioritas. Kalau dari luar, penegakan hukum harus berjalan tanpa pandang bulu.

Reformasi Bukan Cuma Kosmetik

Ini semua berujung pada satu hal: reformasi institusi. Agenda memperkuat kedaulatan rakyat mustahil tercapai tanpa pembenahan aparat dan lembaga negara. Reformasi setengah hati cuma akan memperdalam krisis kepercayaan. Aparat negara harus berdiri di pihak konstitusi, bukan jadi perpanjangan tangan kepentingan kelompok tertentu.

Tanpa pembenahan struktural yang mendasar, semua perubahan hanya akan berhenti pada tataran administratif. Kehilangan roh dan makna politiknya.

Dan bicara soal kedaulatan, dampaknya juga global. Posisi Indonesia di dunia internasional sangat ditentukan oleh seberapa berdaulat kita di dalam negeri. Negara yang ekonominya dikuasai asing atau politiknya didikte segelintir orang, sulit bisa bersikap mandiri di forum global. Politik luar negeri yang bermartabat lahir dari dalam negeri yang kuat dan berdaulat.

Pertaruhan Saat Ini

Jadi, pertemuan 30 Januari itu mungkin memberi secercah harapan. Tapi harapan akan pudar jika tak ada kelanjutan. Masyarakat sudah lelah dengan janji. Yang ditunggu sekarang adalah kebijakan konkret yang menunjukkan arah yang jelas.

Singkatnya, kepemimpinan nasional sedang diuji. Di depan ada dua pilihan: terus berkompromi dengan kekuatan oligarki, atau memilih jalan lain yang lebih berisiko, yaitu jalan yang benar-benar berpihak pada rakyat banyak.

Pada akhirnya, kekuatan negara terletak pada kedaulatannya. Dan kedaulatan hanya berarti bila ia sungguh-sungguh dipegang oleh rakyat. Dialog adalah awal yang baik, tapi keputusanlah penentunya. Negara harus memilih: menjadi alat segelintir elite, atau menjadi garda depan perjuangan rakyat.

Sejarah nanti akan mencatat pilihan ini dengan jujur. Rakyat juga akan melihat, apakah kekuasaan hari ini dipakai untuk mengembalikan kedaulatan, atau sekadar menjaga status quo yang sudah usang.

(ahm/ed-jaksat)


Halaman:

Komentar