AMSTERDAM Ada perasaan yang berbeda saat Maarten Paes akhirnya berdiri di depan logo Ajax. Kiper itu baru saja diresmikan sebagai pemain baru klub ibukota Belanda itu, menandai kepulangannya ke Eropa setelah petualangan panjang di Amerika Serikat. "Ini momen yang spesial," katanya, tersenyum lega.
Keputusannya bergabung dengan Ajax mungkin mengejutkan sebagian orang. Tapi bagi Paes sendiri, ini bukan langkah spontan. Semuanya sudah ada dalam peta perjalanan kariernya sejak dulu. "Dari awal jadi pemain profesional, kamu harus punya keyakinan. Saya selalu punya visi jangka panjang," ujarnya.
Pindah ke Major League Soccer (MLS) pada 2022 dulu memang bikin banyak orang mengernyit. Tapi, justru di sanalah Paes menemukan bentuk. Empat setengah tahun membela FC Dallas bukan cuma soal sepak bola, melainkan proses pendewasaan diri.
"Waktu saya ambil langkah ke Amerika, nggak semua orang yakin. Tapi saya punya rencana. Dan lihatlah, perkembangan itu terjadi," katanya mantap.
Menurut sejumlah saksi, pengalaman di AS itu membekas dalam. MLS bukan liga main-main. Tantangannya nyata, mulai dari jarak tempuh yang ekstrem, perbedaan iklim yang drastis, sampai tuntutan fisik yang menguras.
"Liganya berkembang pesat, tapi juga berat. Bayangkan, terbang tiga jam untuk satu pertandingan, lalu menghadapi cuaca yang beda total atau ketinggian yang bikin napas sesak. Itu ujian mental sekaligus fisik," tutur Paes menggambarkan.
Semua itu membentuknya. Dia belajar memberi totalitas setiap hari, tak peduli kondisi. "Kamu harus mengerahkan segalanya. Titik."
Di sisi lain, ada pelajaran lain yang tak kalah berharga: kepemimpinan. Saat di Dallas, Paes sempat mengenakan ban kapten. Pengalaman memimpin di lapangan memberinya perspektif baru tentang tanggung jawab.
"Saya juga sempat jadi kapten. Dari situ, belajar banyak soal bagaimana memimpin," akunya.
Etos kerjanya yang gila-gilaan rupanya sudah melekat sejak muda. Paes mengaku baru serius jadi kiper di usia yang relatif telat. Tapi begitu ketemu passion-nya, dia seperti tak bisa berhenti.
"Passion itu sudah dalam darah. Setelah menemukan posisi itu, mereka susah mengusir saya dari lapangan," kenangnya sambil tertawa. "Kalau sudah suka, ya kamu ingin maksimalkan. Sampai sekarang, saya masih betah berjam-jam di lapangan atau nge-gym. Rasanya, itu yang bikin saya terus berkembang."
Proses kepindahannya ke Ajax sendiri berjalan kilat. Meski komunikasi dengan klub sudah terjalin beberapa tahun, semuanya jadi nyata begitu musim panas tiba.
"Kami sudah saling kontak beberapa tahun terakhir. Tapi pas hari pertama pemusatan latihan, agen saya kirim pesan. Dan semuanya bergulir dengan cepat setelah itu," cerita Paes.
Hari-hari terakhir memang menegangkan. Negosiasi alot, detik-detik penantian yang bikin deg-degan. "Mendekati finalisasi, semuanya terasa mencekam. Kamu nggak mau deal ini gagal, kan? Syukurlah, akhirnya beres juga."
Kini, dengan segala pengalaman dari seberang Atlantik itu, Maarten Paes siap membuka babak baru. Pulang ke Belanda, bukan sebagai pemula, tapi sebagai pribadi yang lebih matang. Ajax mendapatkan lebih dari sekadar seorang penjaga gawang.
Artikel Terkait
Borneo FC Incar Kemenangan atas Persita demi Jaga Asa Juara, Bek Asing Klaim Tim Tanpa Tekanan
Megawati Hangestri Kembali Masuk Skuad Hyundai Hillstate, Status Transfer Masih Misterius
Degradasi Semen Padang ke Liga 2, Anggota DPR Ungkap Krisis Finansial Akut
Persebaya Incar Enam Pemain PSM Makassar, Mayoritas Berstatus Bebas Transfer