Menteri Mukhtarudin Resmikan Migrant Center UI, Wujudkan Paradigma Baru Pekerja Migran

- Selasa, 03 Februari 2026 | 08:30 WIB
Menteri Mukhtarudin Resmikan Migrant Center UI, Wujudkan Paradigma Baru Pekerja Migran

Suasana di Balairung Universitas Indonesia, Depok, siang itu terasa istimewa. Tanggal 2 Februari 2026, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, berdiri untuk membuka lembaran baru. Acara ini bukan sekadar seremoni. Ia digelar bertepatan dengan perayaan Dies Natalis UI ke-76, memberi makna lebih dalam tentang peran pendidikan dalam nasib pekerja migran.

Dua momen penting terjadi: peresmian Migrant Center UI dan penandatanganan Nota Kesepahaman yang melibatkan empat pihak sekaligus. Kementerian P2MI, Universitas Indonesia, Pemerintah Kota Depok, dan Pemerintah Kota Sukabumi bersatu. Tujuannya jelas, tapi ambisius: membangun ekosistem penyediaan tenaga kerja yang tak cuma terampil, tapi punya daya saing global yang kuat.

Lebih Dari Sekadar Penempatan

Dalam pidatonya, Mukhtarudin terlihat bersemangat. Ia menegaskan kolaborasi ini adalah wujud paradigma baru. Fokusnya bergeser. Bukan lagi soal mengirimkan tenaga kerja dengan skill rendah, melainkan menyiapkan pekerja migran dengan kompetensi menengah hingga tinggi yang perlindungannya benar-benar menyeluruh.

"Kita sedang membangun ekosistem dari hulu ke hilir," ujarnya.

"Melalui kemitraan dengan UI sebagai pusat keunggulan dan Pemerintah Kota Depok serta Sukabumi sebagai basis wilayah, kita memastikan setiap pekerja migran berangkat memiliki kompetensi dan pulang dengan kesejahteraan yang berkelanjutan."

Intinya, kemitraan ini ingin menjadikan pusat tersebut sebagai lokomotif inovasi dan riset. Standar akademik harus menjembatani kebutuhan industri global, sehingga sertifikasi dan keahlian pekerja Indonesia diakui di mana-mana.

Mengikuti Arahan Presiden

Kehadiran Migrant Center di kampus, menurut Menteri, adalah bukti nyata. Dunia pendidikan kini terlibat aktif untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah internasional.

"Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, kita sedang menjalankan pergeseran paradigma besar dalam tata kelola pekerja migran," tegas Mukhtarudin di hadapan sivitas akademika UI.

"Kita tidak lagi hanya menempatkan tenaga kerja, tetapi menyediakan skilled workers dengan kualifikasi medium-high skill. Inilah jalan menuju kemandirian dan martabat bangsa di mata dunia."

Kampus Sebagai Penggerak

Peran perguruan tinggi dinilai krusial. UI, dan kampus lain pada umumnya, diharapkan menjadi mesin pencetak tenaga kerja yang siap bersaing. Melalui Migrant Center, standarisasi kompetensi yang sesuai industri modern di luar negeri bisa tercipta.

Mukhtarudin menyebut ini kerja keroyokan. "Kampus menjadi motor penggerak riset dan pelatihan, sementara pemerintah daerah menjadi garda terdepan dalam penyiapan warga. Ini adalah kerja keroyokan untuk memastikan perlindungan dari sebelum berangkat hingga kembali ke tanah air," tandasnya.

Sinergi ini selaras dengan tema Dies Natalis UI tahun ini: "UI Unggul Impactful, Fondasi Mandiri, Akselerasi Dampak". KemenP2MI optimis, dengan kemitraan empat pihak ini, target penyediaan tenaga kerja berkualitas bisa tercapai lebih cepat.

Detil Kerja Sama

Langkah strategis ini mencakup kerja sama erat dengan pemerintah daerah. Mukhtarudin menggarisbawahi tiga poin utama kolaborasi tersebut.

Pertama, MoU dengan UI fokus pada pembentukan Migrant Center sebagai pusat kajian, pelatihan, dan advokasi berbasis riset.

Kedua, MoU dengan Wali Kota Depok lebih menitikberatkan pada penguatan basis data dan perlindungan keluarga pekerja migran di wilayah penyangga ibu kota.

Sedangkan yang ketiga, MoU dengan Wali Kota Sukabumi bertujuan mengoptimalkan kantong-kantong pemberangkatan melalui edukasi dan pengawasan yang lebih ketat di tingkat lokal.

"Selaras dengan tema UI Unggul Impactful, pembentukan Migrant Center ini adalah bukti nyata 'Akselerasi Dampak'," tegas Mukhtarudin. "Kita ingin riset UI tidak hanya berhenti di perpustakaan, tapi menjadi fondasi mandiri bagi perlindungan pekerja kita."

Harapannya, kolaborasi ini bisa jadi pilot project bagi daerah lain di Indonesia.

"Semoga UI terus menjadi motor penggerak pembangunan Indonesia yang inklusif. Dengan adanya Migrant Center dan dukungan para Wali Kota, kita menciptakan ekosistem pelindungan yang utuh dari hulu hingga hilir," pungkasnya menutup acara.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar