"Ada satu aplikasi yang berbahaya, dan ini patut segera kita carikan solusinya, yaitu Roblox. Di beberapa negara sudah dilarang. Menurut BNPT, Roblox ini jadi sarana komunikasi teroris juga," papar Rofiqi.
"Ini butuh sinergi, tapi di ruang ini kita harus bicara solusi. Jangan RDP terus-terusan tanpa hasil. Kasihan anak-anak kita. Banyak yang dewasa secara seksual sebelum waktunya karena hal-hal seperti ini," tambahnya dengan nada prihatin.
Pembahasan ini mendapat dimensi lain dari koleganya sesama anggota komisi, Shadiq Pasadigoe. Ia menyampaikan pandangan yang sangat personal, berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri.
"Cara tadi persoalan media sosial yang mempengaruhi child grooming ini, saya tidak membenarkan juga itu. Karena saya sekarang sudah berumur 67 tahun," kata Shadiq membuka cerita.
Ia mengaku baru tersadar belakangan ini. Pengalaman buruk yang dialaminya puluhan tahun silam, saat masih bocah, ternyata adalah bentuk child grooming.
"Dan saya baru tahu hari ini bahwa waktu saya masih kecil, saya korban child grooming ini. Baru tahu saya," ujarnya, mengungkapkan pengetahuannya yang terlambat.
Shadiq menambahkan, kejadian pahit itu menimpanya ketika usianya masih sangat belia.
"Ah, tapi saya berani mengatakan untuk pengalaman kita bahwa saya sekarang sudah 67 tahun, dan waktu saya berumur sekitar 10 atau 9 tahun, saya korban itu," tutupnya. Sebuah pengakuan yang menyentak, datang dari dalam ruang rapat itu sendiri.
Artikel Terkait
Bencana 2026: Alarm Terakhir untuk Pendidikan Ekologi
Di Balik Trauma Child Grooming: Ancaman Bunuh Diri dan Diamnya Orang Tua
Investasi TaniHub Berujung Dakwaan: Kerugian Negara Capai Ratusan Miliar
Dokumen Epstein Bocor, Tautan Indonesian CIA dan Transaksi Properti dengan Trump Mengarah ke Hary Tanoe